DENPASAR, KABARBALI.ID – Di balik bisingnya kendaraan dan dinamika sosial-politik yang kian memanas, sastra terbukti masih memiliki taji. Hal itu terekam jelas dalam perhelatan Nuit de la Poésie (Malam Puisi) yang digelar di Toko Buku Partikular, Denpasar, Jumat (24/1/2026) malam.
Acara yang diinisiasi oleh Alliance Française (AF) Bali ini bukan sekadar seremoni literasi. Nuit de la Poésie menjadi ruang pertemuan bagi mereka yang percaya bahwa kata-kata masih mampu merawat kemanusiaan.
Nuit de la Poésie merupakan bagian dari Nuits de la Lecture 2026, agenda literasi internasional yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan Prancis. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Villes & Campagnes” atau Kota dan Pedesaan.
“Tema ini mengajak kita menimbang kembali relasi antara ruang, manusia, dan imajinasi di tengah perubahan sosial yang cepat,” tulis keterangan resmi penyelenggara.
Suasana intim Toko Buku Partikular kian hidup saat penyair Pranita Dewi membacakan deretan puisinya yang reflektif. Tak hanya itu, Sandi Saraswati, pengajar bahasa Prancis sekaligus pegiat teater, turut membawakan puisi Pranita yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dalam antologi Couleur Femme (Warna Perempuan).
Perlintasan bahasa ini menegaskan bahwa puisi adalah medium universal yang melampaui batas geografis. Tercatat lebih dari 14 partisipan ikut naik panggung, membacakan karya sendiri maupun penyair favorit mereka dengan penuh emosi.
Acara yang dipandu oleh Juli Sastrawan (Penerbit Partikular) dan Olivia Imelda (AF Bali) ini menegaskan pentingnya ruang sastra independen. Di tengah situasi yang sering kali menyesakkan, puisi menjadi “ruang aman” untuk bernapas.
Satu per satu pembaca maju—ada yang dengan suara bergetar, ada pula yang lantang berapi-api—membuktikan bahwa puisi belum kehilangan relevansinya.
“Di tengah deru negara, puisi masih berarti. Ia mungkin tidak berteriak, tetapi ia hadir—dan dari kehadiran itulah, makna terus dijaga,” ungkap narasi penutup acara tersebut. (Pra-Kab).