DENPASAR, KABARBALI.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk merombak struktur ekonomi masyarakat melalui transformasi sektor pertanian. Dalam Rapat Paripurna ke-28 di Gedung DPRD Provinsi Bali, Rabu (25/3/2026), Koster menargetkan seluruh kabupaten dan kota di Bali sudah menuntaskan sistem pertanian organik paling lambat pada tahun 2028.
Langkah ini diambil di tengah tantangan serius menyusutnya lahan pertanian di Pulau Dewata. Koster mengungkapkan, saat awal menjabat, luas sawah di Bali mencapai 71.000 hektare. Namun, angka tersebut kini terus tergerus hingga tersisa sekitar 68.000 hektare.
“Dulu waktu saya baru pertama (menjadi Gubernur), itu sekitar 71 ribu hektare, sekarang tinggal 68 ribu hektare. Organik sekarang sekitar 44 ribu atau sekitar 65 persen,” ujar Koster di hadapan anggota legislatif.
Satu-satunya di Indonesia
Koster menjelaskan bahwa Bali memiliki modal kuat untuk memimpin transformasi ini. Saat ini, Bali menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki Peraturan Daerah (Perda) khusus mengenai sistem pertanian organik.
Payung hukum ini pun mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian. Koster telah menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian untuk segera mengatur ulang sistem transformasi tersebut agar target 2028 tercapai tanpa meleset.
“Jadi harus selesai paling lambat pada tahun 2028. Pertanian organik semuanya sudah tuntas di semua Kabupaten dan Kota,” tegasnya.
Sentil Pengusaha: ‘Jangan Cari Untung Sendiri’
Selain fokus pada produksi, Gubernur juga menekankan pentingnya hilirisasi dan pemasaran melalui Peraturan Provinsi Bali No 99 Tahun 2018. Ia meminta seluruh pelaku usaha, mulai dari hotel, restoran, hingga mal, wajib menggunakan produk lokal Bali.
Koster memberikan teguran keras kepada pihak-pihak yang hanya mengambil keuntungan di Bali tanpa berkontribusi pada kesejahteraan petani lokal.
“Jangan enak-enak sendiri, mencari untung sendiri, melepaskan diri dari keterikatan dengan masyarakat Bali. Itu bukan sesuatu yang kita harapkan,” kata Koster dengan nada tegas.
Menurutnya, kolaborasi antara sektor pariwisata dan pertanian adalah kunci agar ekonomi Bali bisa tetap eksis dan bertahan di masa depan. Selain organik, pemerintah juga tengah memacu budidaya pohon kelapa sebagai sumber sarana upacara sekaligus bahan produksi minuman tradisional Bali guna meningkatkan nilai tambah bagi petani. (Naf-Kab).