Tari Tirta Kamandalu, Doa yang Menari Merawat Energi Tirta Kehidupan di Festival Air Suwat 2026

Tari Tirta Kamandalu, Doa yang Menari Merawat Energi Tirta Kehidupan di Festival Air Suwat 2026. (foto : istimewa).

GIANYAR, KABARBALI.ID – Desa Adat Suwat, Desa Suwat, Kecamatan Gianyar, tak sekadar menandai pergantian tahun dalam kemeriahan Festival Air Suwat (FAS) 2026. Di antara embun pagi yang belum sepenuhnya luruh, sebuah doa bergerak pelan dalam wujud Tari Tirta Kamandalu, tarian pembuka festival yang sarat makna spiritual dan kosmologis.

Garapan Sanggar Pancer Langit ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan medium ritual yang berakar pada tradisi Siat Yeh dan Mendak Tirta, dua praktik sakral masyarakat Bali yang memuliakan air sebagai sumber kehidupan. Tari Tirta Kamandalu hadir sebagai penanda spiritual festival tahunan yang mengikat manusia, alam, dan waktu dalam satu harmoni.

Owner Sanggar Pancer Langit, Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa tarian ini merepresentasikan energi Tirta Kamandalu, air suci yang dalam kosmologi Bali dipercaya memiliki daya angruat, anglebur, dan angurip bhuana—membersihkan, melebur, sekaligus menghidupkan semesta.

“Karya ini berpijak pada pengetahuan lokal Bali, di mana kehidupan selalu terikat dengan kala atau waktu sebagai poros kosmologi,” ujarnya.

Momentum pementasan semakin memperkuat makna tersebut. Dalam kalender Bali, 1 Januari 2026 jatuh pada Wraspati Pon Wuku Krulut, dengan nilai hari 22 yang direduksi menjadi angka 4, simbol arah utara—tempat bersemayamnya Tirta Kamandalu menurut lontar-lontar suci. Hari ini diyakini sebagai saat medal-nya energi kesucian, ketika keterhubungan manusia dan alam berada pada titik paling halus namun kuat.

Di sinilah tarian menjelma doa yang hidup. Gerak, ritme, dan ruang menjadi bahasa sunyi antara bhuana agung dan bhuana alit. Art Director I Gusti Ngurah Krisna Gita menerjemahkan filosofi ini ke dalam garapan artistik yang penuh simbol.

“Gerak dalam tarian ini adalah doa. Yeh, toya, dan tirta bisa meurip ketika doa dimasukkan ke dalam air, termasuk melalui bunyi-bunyian,” tuturnya.

Empat Segmen Pentas

Tari Tirta Kamandalu disajikan dalam empat segmen pementasan. Dimulai dari muput tirta, ditandai simbol jeding dan asap sebagai pengurip air, berlanjut pada euforia masyarakat menyambut tirta kehidupan. Segmen ketiga menggambarkan penglukatan, proses peleburan sekala dan niskala, sebelum ditutup dengan harmoni keseimbangan antara manusia, alam, dan bhuta kala.

Pria dan wanita menari bersama dalam suka cita dunia nyata, sementara sosok bhuta kala divisualkan melalui topeng dari ranting pohon, merepresentasikan alam yang disucikan dalam dimensi tak kasat mata.

Kostum dan properti pementasan dirancang dengan kesadaran simbolik yang kuat. I Gusti Ngurah Arya Darmayoga bersama tim artistik menghadirkan busana wanita bernuansa sesanghyangan dengan dominasi warna putih, dipadu gelungan sanghyang dan janger yang diciptakan khusus untuk Festival Air Suwat. Sosok bhuta kala diwujudkan melalui kostum dari ranting pohon—ada yang gersang, ada pula yang rimbun—melambangkan siklus penciptaan dan peleburan alam. Sekitar 80 persen kostum dan properti merupakan karya baru yang diciptakan khusus untuk pementasan ini.

Akar Tradisi

Sementara itu, gerak tari diramu Pande Niken Mirantika dan Aditya Kristanto dengan pijakan filosofi kamandalu: air, pasepan, dan penyatuan. Nuansa geraknya pelan dan kontemplatif, memberi ruang penghayatan mendalam tanpa melepaskan akar tradisi Bali.

Salah satu penari, Ni Kadek Aurani Sri Laksmi, mengaku proses menari dalam karya ini menghadirkan pengalaman berbeda.

“Menari di sini bukan sekadar menghafal gerak, tapi memberi rasa. Geraknya pelan, melatih kesabaran dan mengalir,” ungkapnya.

Melalui Tari Tirta Kamandalu, Festival Air Suwat 2026 menjelma lebih dari sekadar agenda budaya dan pariwisata. Ia hadir sebagai ritual kolektif, doa bersama yang menari dan mengalir bersama air, merawat keseimbangan, keharmonisan, serta energi tirta kehidupan bagi alam dan manusia. (Tut-Kab).

kabar Lainnya