Turun ke Merajan Dewa Sidan, Politisi PDI Perjuangan Gus Tut Siap Fasilitasi Usulan Krama

Dalam reses masa persidangan tahun 2026, politisi asal Banjar Gria Buda, Desa Tusan ini menemui konstituen di Merajan Dewa Sidan, Desa Adat Bumbungan, Kamis (12/2/2026) malam

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Anggota DPRD Kabupaten Klungkung dari Fraksi PDI Perjuangan, Ida Bagus Ketut Arimbawa, yang akrab disapa Gus Tut, menunjukkan komitmennya mengawal aspirasi warga Banjarangkan.

Dalam reses masa persidangan tahun 2026, politisi asal Banjar Gria Buda, Desa Tusan ini menemui konstituen di Merajan Dewa Sidan, Desa Adat Bumbungan, Kamis (12/2/2026) malam.

Kehadiran Gus Tut disambut antusias oleh semeton pengempon pura setempat. Pertemuan ini menjadi wadah bagi warga untuk menyampaikan berbagai kebutuhan mendesak, terutama terkait sarana prasarana persembahyangan dan pelestarian tempat suci.

Banyaknya usulan pembangunan fisik tempat suci menjadi catatan utama dalam reses kali ini. Warga mengharapkan adanya bantuan pemerintah untuk rehabilitasi bangunan pura serta pengadaan prasarana pendukung upacara.

“Semua usulan, terutama untuk bangunan pura dan prasarana persembahyangan sudah kami catat, kami arahkan agar masyarakat segera menyusun proposal secara kolektif. Sebagai wakil rakyat, tugas saya adalah memfasilitasi dan mengawal usulan ini di gedung dewan agar masuk dalam skema pembangunan kabupaten,” tegas Gus Tut.

Wanti-wanti Soal Sampah dan Kebersihan Pura

Menariknya, Gus Tut tidak hanya bicara soal pembangunan fisik. Politisi yang aktif di dunia pariwisata ini juga memberikan edukasi penting terkait lingkungan. Ia mendorong krama  untuk mulai menerapkan pengelolaan sampah berbasis mandiri.

“Perawatan tempat suci bukan hanya soal membangun fisiknya, tapi juga menjaga kesuciannya dari sampah. Saya mendorong penanganan sampah berbasis mandiri di lingkungan rumah tangga dan merajan, kebersihan dan keberlanjutannya adalah tanggung jawab kita bersama,” imbuhnya.

Sebagai politisi yang lahir dan besar di Banjarangkan, Gus Tut menegaskan bahwa reses adalah momentum sakral untuk mendengar “detak jantung” kebutuhan masyarakat. Aspirasi ini nantinya akan diformulasikan menjadi Pokok-Pokok Pikiran (Pokpir) DPRD Klungkung.

“Tugas saya menjembatani harapan masyarakat dengan kebijakan pemerintah. Baik itu infrastruktur, adat, maupun sosial, akan saya kawal ketat. Namun, percepatan pembangunan butuh pengawalan aktif dari masyarakat melalui semangat gotong royong,” pungkasnya. (Sta-Kab).

kabar Lainnya