KARANGASEM, KABARBALI.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karangasem diwarnai insiden kurang mengenakkan. Sebanyak 240 paket makanan di SD Negeri 5 Karangasem terpaksa dikembalikan setelah ditemukan indikasi makanan tidak layak konsumsi, Rabu (4/2/2026).
Temuan tersebut meliputi kondisi nasi yang sangat kering serta lauk sate ayam lilit yang diduga sudah basi atau berasa masam. Pihak sekolah yang sigap langsung melarang seluruh siswa menyantap menu tersebut guna menghindari risiko kesehatan.
“Ya, satenya seperti kurang matang dan rasanya masem. Nasinya juga kering seperti dimasak dengan air kurang,” ungkap Kepala SD Negeri 5 Karangasem, Putu Arnawa, kepada media.
Dijelaskan, ini kali pertama terjadi kendala teknis pada menu MBG yang diterima sekolahnya. Biasanya, distribusi berjalan lancar dan menu disukai siswa. Begitu mengetahui kondisi makanan yang tidak beres, pihak sekolah segera meminta orang tua siswa untuk membawakan sarapan dari rumah sebagai pengganti.
“Biasanya makanannya enak, siswa senang. Karena ini baru pertama kali bermasalah, kami langsung ambil langkah pencegahan,” imbuhnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala SPPG Subagan II, Ariasa, turun langsung melakukan pengecekan. Ia mengakui adanya kualitas rasa yang berubah pada menu sate ayam lilit hari itu. Namun, ia membantah jika nasi disebut belum matang sempurna.
“Kalau dibilang mentah, menurut saya tidak. Nasinya matang, hanya saja bagian atasnya agak kering karena kurang air saat memasak. Untuk sate, memang terasa masem, kemungkinan akibat penggunaan kelapa dalam proses pengolahan,” jelas Ariasa.
Ariasa memaparkan bahwa bahan sate sebenarnya sudah dipersiapkan sejak Selasa sore dan dimasak pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Ia menduga proses fermentasi kelapa berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihak SPPG menarik kembali seluruh paket yang telah didistribusikan. Tercatat, keluhan serupa juga muncul dari SD Negeri 1 Karangasem. SPPG Subagan II sendiri melayani sekitar 2.400 siswa di 11 sekolah tingkat SD dan SMP.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Sebagai langkah evaluasi, ke depan menu sate akan kami hapus dari daftar distribusi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Ariasa.
Insiden ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara MBG untuk memperketat kontrol kualitas (Quality Control) sebelum makanan sampai ke tangan siswa, mengingat skala distribusi yang mencapai ribuan paket setiap harinya. (Kab).