Wariga Bali 17 Januari 2026: Semut Sedulur Baik, Salah Wadi Perlu Diwaspadai

Ala Ayuning Dewasa Sabtu 17 Januari 2026 mencatat hari kurang baik untuk Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya, namun baik untuk gotong royong dan kegiatan sosial menurut wariga Bali. Gettyimages

KABARBALI.ID — Kalender Bali atau Ala Ayuning Dewasa untuk Sabtu, 17 Januari 2026, mencatat sejumlah dewasa yang perlu diperhatikan masyarakat sebelum melaksanakan aktivitas penting, khususnya yang berkaitan dengan upacara adat, pertanian, dan kegiatan sosial.

Pada hari tersebut, beberapa dewasa dinilai kurang baik (ala dewasa) untuk pelaksanaan Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya, termasuk upacara perkawinan, potong rambut, hingga penguburan dan pembakaran jenazah (ngaben).

Dewasa Salah Wadi secara khusus menandai hari ini tidak baik untuk Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya, sementara Gagak Anungsang Pati juga mengingatkan agar masyarakat menghindari pelaksanaan atiwa-tiwa atau pembakaran mayat.

“Pemahaman terhadap ala-ayuning dewasa menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan antara aktivitas manusia dengan tatanan kosmis menurut warisan kearifan lokal Bali,” demikian pemaknaan yang umum digunakan dalam tradisi wariga Bali.

Meski demikian, tidak seluruh aktivitas dinilai kurang baik. Dewasa Semut Sedulur justru dinyatakan baik untuk kegiatan gotong royong, kerja bakti, memulai kampanye, serta membentuk perkumpulan. Hal ini menjadikan hari tersebut tepat untuk aktivitas sosial dan kebersamaan.

Sementara itu, dewasa Kala Katemu dinilai baik untuk menangkap ikan, berburu, mapikat, memasang jerat, hingga mengadakan pertemuan, namun tidak dianjurkan untuk memulai usaha beternak karena dipengaruhi Kala Bangkung dan Kala Nanggung.

Dalam sektor lingkungan dan pertanian, dewasa Banyu Urug dinilai baik untuk membuat bendungan atau penahan air, namun tidak baik untuk pembuatan sumur, sedangkan Babi Munggah mengingatkan agar menghindari aktivitas bercocok tanam.

Dari sisi pararasan, hari ini berada pada Laku Bintang, Pancasuda Satria Wirang, Ekajalaresi Patining Amerta, dan Pratiti Jati, yang secara filosofis menekankan kehati-hatian, pengendalian diri, serta keteguhan dalam bersikap.

Masyarakat Bali diimbau untuk tetap menjadikan Ala Ayuning Dewasa sebagai pedoman kultural, terutama dalam menentukan waktu yang tepat untuk aktivitas sakral maupun kegiatan sosial kemasyarakatan. (Kab).

kabar Lainnya