

KABARBALI.ID, BADUNG – Musim kemarau pada musim tanam II tahun 2026 mengancam sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Badung akibat minimnya pasokan air irigasi. Mengantisipasi risiko gagal panen, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung menyiagakan perlindungan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang mencakup 7.000 hektare lahan pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, menjelaskan bahwa skema asuransi ini menjadi jaring pengaman finansial agar para petani tidak menanggung sendiri kerugian akibat bencana alam maupun serangan hama.
“Dengan AUTP, petani tidak menanggung seluruh risiko sendiri atau dengan kata lain memindahkan kerugian akibat gagal panen kepada pihak asuransi,” ujar Anak Agung Ngurah Raka Sukadana saat dikonfirmasi, Sabtu (10/10/2026).
Pada tahun anggaran 2026, Pemkab Badung mengalokasikan pembiayaan premi AUTP melalui skema subsidi kolaboratif, yakni 80 persen disokong oleh Kementerian Pertanian dan 20 persen disubsidi langsung oleh Pemkab Badung.
Melalui program ini, petani yang mengalami kerusakan tanaman padi minimal 75 persen per petak alami akibat kekeringan, banjir, maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berhak mengajukan klaim ganti rugi sebesar Rp 6 juta per hektare.
Meski demikian, Raka menegaskan bahwa pembayaran ganti rugi tidak serta-merta dicairkan secara otomatis tanpa adanya laporan resmi.
“Petani peserta wajib segera melaporkan kerusakan untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan penilaian oleh petugas sesuai mekanisme yang berlaku sebelum klaim diproses perusahaan asuransi,” ungkap mantan Staf Ahli Bupati Badung tersebut.
Selain itu, Pemkab Badung mengingatkan para petani peserta asuransi untuk memperhatikan batas waktu pengajuan berkas. Hak atas ganti rugi dapat gugur secara hukum apabila petani tidak melengkapi persyaratan dalam jangka waktu 12 bulan sejak diterimanya surat permintaan dokumen dari pihak asuransi.
Dengan disiapkannya perlindungan AUTP ini, Pemkab Badung berharap keberlanjutan usaha tani dan kesejahteraan para petani di Pulau Dewata tetap terjaga meskipun berada di tengah ancaman dampak cuaca ekstrem. (Gus-Kab).