

KARANGASEM, KABARBALI.ID – Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata (Gus Par) menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya merawat pura kawitan serta menjaga keutuhan sejarah leluhur saat menerima audiensi panitia Karya Agung Pasemetonan Ki Pasek Badeg di Kantor Bupati Karangasem, Senin (12/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gus Par memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesadaran kolektif pasemetonan dalam melestarikan warisan tradisi dan karya sastra kuno yang ada di Karangasem. Menurutnya, warisan leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi identitas daerah yang wajib diwariskan secara utuh kepada generasi penerus.
“Karangasem merupakan gudangnya sastra yang harus dijaga kelestariannya. Saya mengapresiasi seluruh Pasemetonan Ki Pasek Badeg yang memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur,” ujar Gus Par.
Bupati Karangasem juga menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah atas penyelenggaraan Karya Agung Ki Pasek Badeg yang puncaknya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (31/10/2026). Ia menekankan agar momentum ini dijadikan ajang mempererat rasa kebersamaan.
“Jaga kekompakan, paiketan atau pasemetonan,” tegas Gus Par.
Ketua Panitia Karya, I Nyoman Sidia, menjelaskan bahwa Karya Agung ini memiliki makna spiritual dan historis yang sangat mendalam. Berdasarkan penelusuran para penglingsir, upacara dengan tingkatan besar seperti ini diperkirakan belum pernah digelar selama kurang lebih lima generasi.
“Ini bukan sekadar karya. Kami ingin menguatkan kembali hubungan dengan leluhur sekaligus memastikan warisan yang masih ada hari ini tetap terjaga dan bisa dikenal generasi berikutnya,” papar Sidia.
Rangkaian upacara besar yang diselenggarakan meliputi Numbung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Manawa Ratna, hingga Balik Sumpah dengan tingkatan Madianing Utama.
Lebih jauh, Sidia membeberkan bahwa pemugaran Pura Kawitan Ki Pasek Badeg telah dilakukan secara swadaya oleh warga pasemetonan selama kurang lebih 15 tahun. Bangunan pura secara bertahap diperbaiki akibat lapuk dimakan usia serta dampak dari erupsi dahsyat Gunung Agung pada tahun 1963 silam.
Tak hanya fisik pura, pemuliaan sejarah juga merambah ke ranah literasi kuno. Naskah lontar bersejarah Lontar Kandan Pasek—yang memuat rekam jejak keberadaan Ki Pasek Badeg—telah berhasil diselamatkan melalui kerja sama akademis dengan Universitas Udayana.
Proses konservasi tersebut mencakup perawatan fisik lontar, alih aksara, hingga alih bahasa yang kini telah resmi diterbitkan dalam bentuk buku agar mudah dipelajari oleh masyarakat luas. (Kaa-Kab).