

BADUNG, KABARBALI.ID – Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mendampingi Presiden RI ke-5 yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri, meninjau kondisi abrasi di kawasan ikonik Pantai Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Minggu (11/10/2026) siang.
Peninjauan lapangan ini menjadi momentum strategis untuk mendorong sinergi terpadu lintas kementerian, lembaga riset, akademisi, serta pemerintah daerah dalam mengatasi krisis abrasi yang kian mengancam pesisir Bali.
Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa penanganan abrasi pantai tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus memperhitungkan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Orang-orang pintar di lembaga, kementerian, harus memahami bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jadi jangan berpikir seperti menangani benua atau daratan kontinental,” tegas Megawati di sela-sela peninjauan.
Ia mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar mengesampingkan ego sektoral dan mengedepankan kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan serta riset yang solid. Megawati juga menekankan pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal Bali, khususnya filosofi Tri Hita Karana, sebagai pijakan moral dalam menjaga kelestarian alam dan keseimbangan pesisir.
“Jadi kerjanya jangan sepotong-sepotong. Ingat, ancaman dari global warming, pencairan es di kutub kian terasa bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Bertahun-tahun lalu sudah dibahas dan kita sebagai penerus harus mampu mencari solusi terbaik,” imbuhnya.
Kondisi abrasi di Pantai Kuta sepanjang tahun 2026 dilaporkan kian mengkhawatirkan akibat dipicu cuaca ekstrem dan terjang gelombang laut yang kuat. Laju kemunduran garis pantai diperkirakan mencapai 1,9 meter per tahun, memicu penyempitan areal pasir pantai serta merusak fasilitas publik seperti pejalan kaki (walkway), tembok pembatas, hingga area pedagang.
Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Hubungan Antarlembaga, Triono Junoasmono, menguraikan bahwa sekitar 30 persen dari total garis pantai Bali yang panjangnya mencapai lebih dari 1.300 kilometer saat ini telah terdampak abrasi.
“Dari 30 persen dari 1.300 kilometer lebih garis pantai di Bali yang terkena abrasi, kami masih menyisakan PR sepanjang 85 kilometer untuk ditangani. Mudah-mudahan dengan kunjungan Ibu Ketua Dewan Pengarah BRIN dan pihak terkait lainnya bisa segera diselesaikan,” ujar Triono.
Sebagai langkah awal, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) bersama pemda telah membangun pemecah gelombang (breakwater) di bagian selatan Pantai Kuta untuk meredam energi gelombang dan meminimalisasi kerusakan lebih lanjut.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Wakil Kepala BRIN Prof. Amarulla Octavian, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, serta Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta. (Rls-Kab).