Sinergi Bali-Australia: Dorong Kesetaraan Gender Melalui Program INKLUSI dan Pemberdayaan UMKM Perempuan

Merayakan Hari Wanita Internasional 2026, Ny. Putri Koster dan Konjen Australia Jo Stevens tekankan aksi nyata perempuan dalam ekonomi dan budaya di Bali.

DENPASAR, KABARBALI.ID – Perayaan Hari Wanita Internasional (International Women’s Day) Tahun 2026 di Bali menjadi momentum penting bagi perempuan untuk bergerak dari sekadar menuntut kesetaraan menuju aksi nyata. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, dalam acara bertajuk Women Taking Action di Sanur, Kamis (12/3/2026).

Putri Koster menekankan bahwa emansipasi bukan berarti menjadikan laki-laki sebagai saingan, melainkan sebagai mitra pendamping yang saling menguatkan. Menurutnya, perempuan Bali memiliki modal sosial yang kuat karena sejak lama telah terlibat aktif dalam aktivitas adat dan sosial.

“Perempuan tidak hanya menuntut hak, tetapi juga harus menunjukkan kontribusi nyata. Di Bali, peran perempuan sangat besar, mulai dari mengisi profesi penting hingga menjaga kelestarian budaya melalui industri kerajinan,” ujar Ny. Putri Koster.

Ia juga berbagi pengalaman pribadinya dalam menjalankan peran sebagai istri gubernur sekaligus memimpin TP PKK dan Dekranasda Bali untuk melayani masyarakat secara langsung.

Tantangan Global dan Kerja Sama Internasional

Dalam acara yang sama, Konsul Jenderal Australia di Bali, Jo Stevens, memaparkan data mengejutkan mengenai ketimpangan gender di tingkat global. Ia menyebutkan bahwa sekitar 2,5 miliar perempuan di seluruh dunia masih belum memperoleh kesempatan ekonomi yang setara dan lebih rentan terhadap kemiskinan ekstrem.

“Australia terus berkomitmen bekerja sama dengan Indonesia, termasuk di Bali, melalui program INKLUSI (Kemitraan Australia-Indonesia menuju Masyarakat Inklusif). Fokus kami adalah mengakhiri kekerasan berbasis gender dan mendukung kepemimpinan perempuan di tingkat lokal,” jelas Jo Stevens.

Fokus pada Kerajinan Tradisional

Pertemuan tersebut juga membahas potensi besar pemberdayaan ekonomi melalui sektor kerajinan tradisional Bali. Jo Stevens memberikan apresiasi atas kepemimpinan perempuan Bali di sektor ini, yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi keluarga tetapi juga menjaga identitas budaya.

Melalui pameran mini yang digelar dalam acara tersebut, para peserta diajak untuk berkolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil guna menemukan cara baru dalam mendorong kesetaraan di berbagai sektor.

“Siapa pun dan dari sektor mana pun dapat mengambil peran dalam mewujudkan keseimbangan dan keadilan bagi perempuan,” pungkas Jo Stevens. (Rls-Kab).

kabar Lainnya