Koster ‘Sentil’ Penggunaan Produk Lokal: Ekonomi Kerthi Bali Harus Jalan dari Hulu ke Hilir

Gubernur Bali Wayan Koster tegaskan Ekonomi Kerthi Bali adalah kunci berdikari ekonomi dan kedaulatan pangan

DENPASAR, KABARBALI.ID – Gubernur Bali Wayan Koster mengirim pesan kuat kepada seluruh pemangku kepentingan ekonomi di Pulau Dewata. Ia menegaskan bahwa konsep Ekonomi Kerthi Bali bukan sekadar wacana, melainkan fondasi wajib agar Bali benar-benar berdikari secara ekonomi dan berdaulat di sektor pangan.

Hal itu ditekankan Koster saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan TP2DD di Auditorium Bank Indonesia Perwakilan Bali, Selasa (10/2). Gubernur jebolan ITB ini meminta implementasi ekonomi berbasis kearifan lokal ini digarap serius dari hulu hingga hilir.

Koster membedah strategi ekonomi yang ia inginkan. Menurutnya, pemerintah harus berada di sisi hulu untuk menciptakan regulasi yang memihak, sementara di hilir, IKM dan Koperasi harus menjadi mesin penggerak.

Ia mencontohkan kesuksesan Pergub Nomor 99 Tahun 2018 yang mewajibkan penyerapan produk pertanian dan industri lokal, seperti kain endek yang terbukti menghidupkan kembali pengrajin tradisional.

Data Bicara: Ekonomi Bali Tumbuh 2,58 Persen

Di tengah tantangan global, Koster memaparkan data menggembirakan. Ekonomi Bali tercatat tumbuh positif sebesar 2,58 persen. Dari sisi inflasi, Kota Denpasar mencatat angka tertinggi (3,60%), sementara Kabupaten Badung terendah (1,09%).

Menariknya, secara bulanan (month to month), Bali justru mengalami deflasi 0,34 persen. Angka ini menunjukkan tekanan harga di Bali relatif terkendali.

“Capaian ini bukan faktor alam seperti daerah tambang, tapi hasil kerja kumulatif sektor riil; hotel, restoran, UMKM, hingga industri kreatif yang tetap tangguh,” jelas Gubernur asal Desa Sembiran ini.

Menghadapi Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, sinergi lintas sektor diperkuat. Kepala Perwakilan BI Bali, R. Erwin Soeriadimadja, memastikan inflasi Bali masih terjaga di sasaran 2,5 ± 1 persen. Namun, strategi 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif) tetap menjadi harga mati.

Senada dengan itu, I Gusti Ketut Astawa dari Bapanas mengingatkan bahwa komoditas seperti beras, cabai, dan bawang tetap menjadi “hantu” inflasi yang harus diantisipasi melalui penguatan produksi lokal. (Rls-Kab)

kabar Lainnya