KABARBALI.ID – Berdasarkan perhitungan penanggalan tradisional Bali (Wariga), Kamis, 20 Agustus 2026 (Wuku/Unsur Pararasan: Aras Kembang, Pancasuda: Tunggak Semi, Ekajalaresi: Buat Astawa, Pratiti: Widnyana) memiliki sejumlah pepadangan atau petunjuk Ala-Ayuning Dewasa (hari baik dan hari buruk) untuk melakukan berbagai aktivitas.
Secara umum, penanggalan Bali pada hari ini dinilai sangat mendukung bagi masyarakat yang hendak memulai usaha baru, melakukan aktivitas pertanian/bercocok tanam, hingga membuat benda-benda tajam atau kerajinan besi (pande).
Namun, hari ini kurang disarankan untuk melangsungkan upacara keagamaan (yadnya), seperti Manusa Yadnya (pernikahan/wiwaha, potong gigi) maupun Pitra Yadnya (ngaben/atiwa-tiwa).
Berikut rincian lengkap petunjuk Ala-Ayuning Dewasa untuk Kamis, 20 Agustus 2026:
Pertanian & Usaha: Sangat baik untuk memulai suatu usaha, bercocok tanam, serta menanam umbi-umbian dan tanaman berbatu (Jiwa Menganti, Kala Empas Turun, Ratu Mangure).
Konstruksi & Pengairan: Baik untuk membuat bendungan (Banyu Urug) serta memasang tali penghambat di sawah/kebun atau memperbaiki pagar (Taliwangke).
Pekerjaan Api & Kerajinan Besi: Baik untuk mulai membuat senjata tajam, taji, tombak, alat penangkap ikan (pande besi), serta membakar bata mentah, genteng, keramik, dan gerabah (Geni Murub, Geni Rawana, Geni Rawana Jejepan, Macekan Lanang, Macekan Agung).
Spiritual & Pengajaran: Sangat baik untuk memberi petuah, nasehat, maupun mempelajari hal-hal yang bersifat kebathinan/gaib (Tutur Mandi).
Upacara Keagamaan (Yadnya): Tidak baik melaksanakan upacara yadnya, khususnya Manusa Yadnya (pernikahan, mapendes, potong rambut) dan Pitra Yadnya (penguburan, ngaben/atiwa-tiwa, nyekah) (Kaleburau, Macekan Lanang, Pamacekan, Panca Prawani, Salah Wadi).
Pembangunan Rumah: Tidak baik untuk mengatapi rumah, melaspas, maupun membangun tempat tinggal (Geni Murub, Geni Rawana).
Lainnya: Tidak baik membuat sumur, memetik buah-buahan, memuliai benang tenun, serta membuat tali ternak (Banyu Urug, Kala Empas Turun, Taliwangke).
Masyarakat Imbau tetap bijak dan memperhatikan kelonggaran tradisi setempat (Desa, Kala, Patra) dalam memedomani kalender Bali ini. (Kab).