KARANGASEM, KABARBALI.ID – Sehari sebelum Sang Merah Putih dikibarkan untuk memperingati Kemerdekaan RI ke-2 pada 17 Agustus 1947, seorang pemuda asal Karangasem gugur di medan pertempuran.
Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana menghembuskan napas terakhir di usia sekitar 20 tahun saat mempertahankan markas perjuangan di Desa Poh, Budakeling, dari serangan pasukan NICA pada 16 Agustus 1947.
Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, A.A. Gede Suryawisesa, menceritakan kembali kisah kepahlawanan putra lahir tahun 1927 tersebut. Semangat nasionalisme Candra Buana telah tertanam sejak kecil dari kisah para leluhurnya dalam Perang Jagaraga.
“Sejak kecil para putra Puri Kaleran dibekali cerita perjuangan leluhur. Ketika NICA berusaha kembali menguasai Indonesia, para pemuda Puri Kaleran ikut turun ke medan perjuangan,” ungkap A.A. Gede Suryawisesa, Jumat (14/8/2026).
Sebelum gugur, Candra Buana aktif bergerilya bersama pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai dan terlibat dalam pertempuran besar di Tanah Aron pada 7 Juli 1946. Saat hendak mempersiapkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Desa Poh, markas mereka diserang dan dibakar oleh NICA.
Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah menganugerahkan pangkat Kapten secara anumerta dan mengabadikan namanya di Tugu Taman Pahlawan Margarana.
Kini, Pemerintah Kabupaten Karangasem mengabadikan namanya menjadi Taman Budaya Kapten A.A. Made Karang Candra Buana berdasarkan SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026.
Sosoknya juga ditampilkan dalam Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI di Lapangan Chandra Bhuana, Amlapura, sebagai inspirasi bagi generasi muda. (Kab/Red).