DENPASAR, KABARBALI.ID – Langit pesisir Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, berubah menjadi kanvas raksasa penuh warna akhir pekan kemarin. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Kabupaten Badung I Gusti Anom Gumanti secara resmi membuka Festival Layang-Layang bergengsi, Sekaa Pelayang Badung (SPB) Fest #4, Sabtu (4/7/2026).
Ajang tahunan ini menjadi bukti nyata komitmen kuat dalam menjaga warisan budaya Bali sekaligus menggenjot sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Mengusung tema filosofis “Bayu Cita Loka”, festival tahun keempat ini menyatukan tiga elemen seni kreatif masyarakat Badung, yakni seni layang-layang tradisional, seni rupa, dan seni musik.
Pembukaan event akbar ini turut dihadiri oleh Pembina SPB sekaligus Anggota DPRD Badung I Made Yudana, perwakilan Dinas Pariwisata Badung, Ketua Pelangi Denpasar, perwakilan Desa Adat Intaran, serta jajaran Tim Ekonomi Kreatif Kabupaten Badung.
Dalam sambutannya, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa melayangkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Sekaa Pelayang Badung yang konsisten menjaga ritme pelestarian tradisi. Menurutnya, menerbangkan layang-layang tradisional Bali bukan sekadar urusan hobi atau mengejar podium juara.
“Tujuan kita bukan semata-mata menjadi juara, tetapi bagaimana budaya ini terus lestari. Selain memiliki nilai filosofi yang tinggi, layang-layang juga menjadi salah satu magnet pariwisata Kabupaten Badung dan Bali secara umum di mata dunia,” tegas Bupati Adi Arnawa.
Senada dengan Bupati, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti yang juga bertindak sebagai Pembina SPB, menegaskan bahwa Pemkab Badung akan selalu berada di garda terdepan untuk menyokong kreativitas rare angon (sebutan para pelayang Bali).
Bagi Anom Gumanti, layang-layang memiliki ikatan spiritual yang sakral dengan ritual pemujaan kepada Ida Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Bayu (Dewa Angin).
“Layang-layang merupakan warisan adiluhung yang harus terus dijaga. Generasi muda Bali, khususnya di Kabupaten Badung, jangan sampai melupakan peninggalan para leluhur. Budaya, adat, dan seni merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ujar legislator asal Kuta.
Ketua Sekaa Pelayang Badung sekaligus Ketua Panitia, I Gusti Agung Andra, menjelaskan bahwa komunitas yang dibentuk sejak tahun 2023 ini telah sukses menjadi jembatan pemersatu pemuda dari ujung Badung Utara hingga Badung Selatan.
Antusiasme rare angon pada gelaran keempat ini benar-benar meledak di luar ekspektasi sejak draf pendaftaran dibuka pada 22 Juni lalu. Tercatat, selama dua hari penuh pelaksanaan festival, sebanyak 1.200 layang-layang tradisional dan kreasi dijadwalkan bertarung menaklukkan angin Mertasari.
“Selain menjadi ajang kompetisi, SPB Fest #4 ini kami harapkan dapat menjadi ruang kolaborasi sehat antara komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif, serta pemerintah dalam memperkuat identitas budaya Bali sekaligus mendukung sektor pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan,” harap pemuda yang akrab disapa Gung Andra tersebut. (Gus-Kab)