

KABARBALI.ID – Pemerintah Provinsi Bali resmi menjalin kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk membangun jaringan trem listrik bertenaga baterai rute Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu, Kabupaten Badung.
Kesepakatan pengembangan moda transportasi ramah lingkungan sepanjang 12 kilometer (km) tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Proyek infrastruktur perkeretaapian ini dirancang di bawah inisiatif Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) sebagai solusi mengurai kemacetan di Bali Selatan.
Proyek ini dibagi menjadi dua tahap pembangunan, yakni Fase 1A rute Bandara-Legian (6,6 km) dengan target operasi komersial kuartal IV 2028, serta Fase 1B rute Legian-Seminyak-Canggu (6,5 km) pada kuartal I 2031.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek senilai strategis ini ditargetkan mulai berjalan pada Maret 2027. Trase tahap pertama diproyeksikan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur Bandara–Canggu ditargetkan rampung sepenuhnya pada 2029.
Kehadiran trem listrik ini diproyeksikan mampu mengakomodasi hingga 60.000 penumpang per hari pada kapasitas maksimalnya, atau menyerap sekitar 40 persen mobilitas di koridor padat Bandara–Canggu yang saban hari dilalui 150.000 wisatawan dan 80.000 kendaraan.
Dengan jeda keberangkatan (headway) antartrem sekitar 10 menit, waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai menuju Canggu diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa proyek ini merupakan solusi jangka panjang atas kelumpuhan lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan pariwisata Badung, tanpa mengorbankan identitas dan estetika daerah.
“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan daerah, mendukung sektor pariwisata, serta tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” tegas Koster, Selasa (1/9/2026).
Sementara itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa konsep trem dipilih—bukan MRT atau LRT—karena ukurannya yang ringkas serta paling ideal dengan karakteristik koridor jalanan di Bali.
“PT KAI memilih konsep trem karena dirancang ramah lingkungan, berbasis baterai tanpa kabel listrik gantung, beroksigen kebisingan rendah, serta berdimensi relatif ringkas. Lebar bodi trem sekitar 2 meter sehingga sangat cocok dipadukan dengan jalanan Bali,” ujar Bobby Rasyidin.
Bupati Wayan Adi Arnawa menyatakan kesepakatan ini merupakan tahap awal yang krusial. Pemda dan PT. KAI. segera menindaklanjutinya dengan perjanjian kerja sama serta studi kelayakan (Feasibility Study) “Trase trem perlu dikaji secara komprehensif agar tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga terintegrasi dengan pengembangan jaringan jalan dan kawasan pariwisata Badung,” katanya.
Selain koridor Kuta-Canggu, ia mendorong pengembangan konektivitas dari Nusa Dua menuju Uluwatu, Bandara Ngurah Rai, dan kawasan Kuta.
“Harapannya akan terbangun transportasi publik massal dalam bentuk trem sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk berkunjung ke destinasi pariwisata sekaligus mengatasi kemacetan dan pertumbuhan kendaraan pribadi,” ujar Adi Arnawa. (Kab/Red).