Bukan Cuma NTT, Bali Utara dan Tengah Diwarning Tanah Bergerak September 2026

Kondisi bangunan rusak di NTT akibat Gempa. foto BNPP/kabarbali.id

KABARBALI.ID – Badan Geologi Kementerian ESDM merilis peta potensi tanah bergerak untuk periode September 2026. Sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT), diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman tanah bergerak dan longsor jelang peningkatan curah hujan.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa pemetaan ini merupakan hasil kolaborasi (overlay) antara peta kerentanan gerakan tanah Badan Geologi dengan prakiraan curah hujan bulanan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Peta potensi gerakan tanah ini masih bersifat regional di tingkat kecamatan. Namun, data ini penting sebagai langkah awal mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Siti dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Khusus di Pulau Dewata, potensi gerakan tanah skala Menengah hingga Tinggi terakumulasi di kawasan Bali bagian Tengah dan Utara yang memiliki topografi perbukitan serta lereng curam.

Wilayah yang masuk dalam zona kewaspadaan ini antara lain:

Sementara untuk wilayah Bali Selatan seperti Denpasar, Badung Selatan, dan pesisir pantai berada pada zona potensi Rendah. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pangkung (aliran sungai) dan tebing kapur terjal diminta tetap waspada saat hujan deras mengguyur.

Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda awal tanah bergerak, seperti munculnya mata air baru yang mendadak keruh, muncul retakan tanah di jalan maupun dinding bangunan, serta tiang atau pohon yang mulai miring.

PVMBG mengingatkan warga agar tidak melakukan pemotongan lereng secara tegak lurus tanpa penahan, serta menghindari aktivitas atau bermalam di bawah lereng curam jika terjadi hujan deras berdurasi lebih dari dua jam. (Kab/Red).

kabar Lainnya