Reuni Alumni FEB Unud Jadi Panggung Seruan Selamatkan Tenun Tradisional Bali

Putri Koster mengajak akademisi FEB Unud ikut menyelamatkan tenun Bali melalui penelitian dan penguatan UMKM lokal

DENPASAR, KABARBALI.ID– Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, mengajak kalangan akademisi ikut berperan aktif menyelamatkan keberlangsungan tenun Bali melalui penelitian dan penguatan ekosistem UMKM lokal.

Ajakan itu disampaikannya saat menghadiri Reuni Lintas Angkatan Alumni Tahun 1983 dan 1984 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana yang berlangsung di Gedung Kerthasabha, Jayasabha, Denpasar, Minggu (10/5).

Dalam sambutannya, Putri Koster menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya reuni alumni tersebut. Ia juga memaparkan aktivitasnya sebagai Ketua Dekranasda Bali yang selama ini aktif melakukan pengawasan terhadap perkembangan UMKM, khususnya sektor kerajinan dan tenun tradisional Bali.

Menurutnya, identitas budaya Bali sejak dahulu adalah menenun, bukan membatik. Namun, persoalan tenun Bali hingga kini dinilai belum terselesaikan, baik dari sisi produksi maupun pemasaran.

Putri Koster menyoroti kain endek Bali yang sebenarnya telah memiliki kekayaan intelektual komunal, termasuk kain gringsing Bali. Meski demikian, produk yang beredar di pasaran justru banyak didominasi tenun dari luar Bali.

“Saya khawatir suatu saat endek tidak lagi dikenal sebagai endek Bali, tetapi menjadi endek Troso atau endek Jepara,” ujar Putri Koster.

Ia berharap pihak kampus, khususnya FEB Universitas Udayana, dapat ikut membedah persoalan tersebut melalui penelitian ilmiah dan kolaborasi bersama BRIDA. Menurutnya, rantai ekosistem tenun Bali saat ini sudah mulai terputus dan tidak lagi sepenuhnya berbasis swadesi.

Selain kain endek, Putri Koster juga menyoroti keberadaan songket Bali yang kini mulai banyak diproduksi menggunakan teknik bordir sehingga mengurangi nilai tradisionalnya.

Ia berharap hasil penelitian akademik nantinya mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan tenun Bali dari hulu hingga hilir.

“Ketika Bali menjadi titik pasar utama tenun, maka Bali bisa menjadi pusat pasar tenun terbesar di Indonesia,” katanya.

Tak hanya berbicara soal tenun, Putri Koster juga menyinggung keberadaan bunga kasna yang mulai langka di Bali. Saat ini pihaknya tengah mengupayakan penyusunan perarem agar bunga kasna tetap digunakan dalam setiap upacara adat sebagai langkah pelestarian budaya dan lingkungan.

Sementara itu, Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya reuni alumni tersebut. Ia menilai berbagai produk lokal yang terus berkembang akan membentuk ekosistem kerajinan rakyat yang kuat di Bali.

Menurutnya, konsistensi Putri Koster dalam menjaga dan melestarikan UMKM lokal, khususnya tenun Bali, menjadi kekuatan penting dalam membangun ekonomi masyarakat Bali.

“Semoga kita bekerja lebih profesional dan ikatan alumni ini terus berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Wayan Koster.

Acara reuni alumni tersebut juga dimeriahkan dengan fashion show karya sejumlah desainer Bali yang menampilkan kain tenun hasil produksi UMKM lokal Bali. (Dwi-Kab).

kabar Lainnya