Desak Integrasi Pertanian-Pariwisata Berbasis Budaya, Yakini Bali Jadi Laboratorium Dunia

Gubernur Koster desak integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya saat terima audiensi Dekan FP Unud.

DENPASAR, KABARBALI.ID – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian di Pulau Dewata tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri ataupun sekadar menjadi pelengkap di bawah bayang-bayang industri pariwisata. Integrasi antara sektor hulu (pertanian) dan hilir (pariwisata berbasis budaya) menjadi strategi mutlak agar para petani tidak hanya dibebani tugas menjaga bentang alam Bali, tetapi juga berhak menikmati kue ekonomi yang jauh lebih besar.

Penegasan visioner tersebut disampaikan Koster saat menerima audiensi jajaran pengurus Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7/2026).

Kedatangan rombongan akademisi yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, tersebut bertujuan untuk meminang Gubernur Koster agar berkenan menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam ajang bergengsi Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang dijadwalkan bakal digulirkan pada 23 Juli mendatang. Forum berskala makro ini diproyeksikan bakal dihadiri oleh 90 dekan fakultas pertanian dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di wilayah Indonesia Timur, dengan total partisipan mencapai 200 orang.

Kritik Pedas Eksploitasi Sawah: Melindungi Tanpa Menyejahterakan Itu Tidak Adil!

Merespons tema seminar yang menyelisik integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya, Gubernur Koster langsung melayangkan kritik tajam terkait realita di lapangan selama ini. Ia menyoroti banyaknya kawasan persawahan dan perkebunan di Bali yang keindahan alamnya dieksploitasi habis-habisan oleh akomodasi pariwisata, namun pemilik lahan justru tetap berada di garis kemiskinan.

“Pertanian harus berjalan seiring sejalan dengan pariwisata. Selama ini banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian tanpa memberikan manfaat ekonomi yang memadai kepada petani sebagai pemilik lahan. Kalau lahan pertanian hanya dilindungi tanpa ada formula peningkatan pendapatan riil bagi petaninya, itu tidak adil! Apalagi kebutuhan hidup saat ini terus meningkat,” cetus Koster secara blak-blakan.

Menurut Gubernur Bali dua periode ini, regulasi dan konsep matang sangat diperlukan untuk mengubah paradigma lama. Petani harus ditempatkan sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat terbesar (primary beneficiary) dari rantai pasok pariwisata berbasis agrowisata tersebut.

Sentuhan Magis Upakara: Bali Satu-satunya Pemilik Regulasi Pertanian Organik

Lebih lanjut, tokoh asal Desa Sembiran ini menguraikan bahwa kekuatan fundamental pertanian Bali terletak pada denyut spiritualitas, tradisi, dan kearifan lokal yang melekat erat di dalamnya. Karakteristik unik ini diklaim tidak akan pernah bisa ditiru oleh wilayah manapun di dunia.

Koster membeberkan bahwa keunikan sistem pertanian Bali ini telah sukses dipresentasikannya dalam sebuah forum internasional di London beberapa waktu lalu. Termasuk di dalamnya mengenai keberadaan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pertanian Organik, yang diklaim sebagai satu-satunya regulasi berbasis organik di Indonesia.

“Di Bali, bertani itu bukan sekadar urusan teknis menanam di tanah. Ada siklus upacara dan upakara suci yang mengiringi secara detail, mulai dari pembibitan, sistem pengairan (Subak), hingga masa panen tiba. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya dan dimensi spiritual yang membuat dunia luar sangat terpikat,” papar Koster.

Bali Bersiap Jadi Laboratorium Studi Kearifan Lokal Dunia

Di tengah dinamika perubahan global yang bergerak cepat, banyak masyarakat dunia kini mulai mengalami krisis identitas dan mencari kembali akar kebudayaan mereka. Bali, menurut Koster, berada dalam posisi yang sangat beruntung karena telah memiliki fondasi jati diri yang sangat kokoh sejak berabad-abad silam. (Rls-Kab).

kabar Lainnya