GIANYAR, KABARBALI.ID – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Gianyar berkomitmen kuat untuk mendorong perluasan kesempatan kerja serta membangun ekonomi pedesaan yang inklusif dan berkelanjutan. Langkah nyata tersebut diwujudkan dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Ekosistem Jaringan Ekonomi Pedesaan Berbasis Kawasan” di Ballroom Praja Shaba Utama, Mal Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Gianyar, Rabu (24/6/2026).
FGD ini diselenggarakan secara strategis untuk menjaring masukan konkret, pandangan akademis, serta rekomendasi kebijakan jangka panjang. Melalui skema pengembangan Tenaga Kerja Mandiri (TKM), model ekonomi berbasis potensi kawasan ini diharapkan mampu memperkuat keterkaitan antar-sektor usaha, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan lokal yang tangguh.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, yang hadir mewakili pemerintah daerah menilai bahwa pendekatan kawasan sangat relevan dengan arah pembangunan nasional maupun daerah. Strategi ini mengintegrasikan seluruh aspek esensial, mulai dari sosial budaya, sumber daya manusia, hingga intervensi teknologi.
“Tema yang diangkat sangat relevan dengan bagaimana kita mengintegrasikan berbagai potensi yang ada di Kabupaten Gianyar. Di satu sisi Gianyar dikenal sebagai pusat seni budaya dan destinasi pariwisata dunia, namun di sisi lain juga memiliki potensi besar di bidang pertanian, industri kreatif, UMKM, ekonomi lokal, serta desa-desa dengan keunggulannya masing-masing,” ujar Pasek Lanang Sadia.
Ia menekankan bahwa desa-desa di Gianyar tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri secara parsial. Seluruh potensi lokal tersebut harus saling terhubung dalam satu jaringan ekosistem kawasan yang kuat guna menciptakan rantai ekonomi yang solid, memperluas akses pasar, membuka lapangan kerja baru, serta menekan angka pengangguran.
Lebih lanjut, Pasek Lanang Sadia menambahkan bahwa tantangan pembangunan desa ke depan semakin kompleks akibat masifnya perkembangan teknologi digital, pergeseran dinamika pasar tenaga kerja, serta ketatnya persaingan ekonomi global. Oleh sebab itu, pola pendekatan pemerintah daerah harus bergerak dari sekadar pelaksanaan program kasat mata menjadi pembangunan ekosistem yang terarah.
“FGD ini sangat strategis karena menjadi ruang diskusi, dialog, dan pertukaran gagasan sekaligus ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan para pelaku usaha dalam merumuskan arah kebijakan yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat,” urainya.
Melalui sinergi akademisi dan birokrasi ini, Pemkab Gianyar berharap dapat melahirkan peta jalan (roadmap) perencanaan pembangunan ekonomi pedesaan yang lebih terukur. Hasil akhir dari diskusi ini akan dijadikan landasan dasar dalam penyusunan kebijakan program kerja sektoral yang disesuaikan secara presisi dengan karakteristik unik masing-masing desa di Gianyar. (Tut-Kab).