Jaga Wajah Pariwisata, DLHK Badung Kerahkan 900 “Pasukan Semut” Pilah 50 Ton Sampah Liar Setiap Hari

DLHK Badung kerahkan 900 petugas untuk memilah 50 ton sampah liar setiap hari di TPST Mengwitani

BADUNG, KABARBALI.ID – Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung mengambil langkah ekstra untuk mengatasi persoalan sampah liar yang kian meresahkan. Sedikitnya 900 personel tenaga kebersihan kini dikerahkan setiap hari untuk menyisir dan memilah puluhan ton sampah yang ditemukan berserakan di pinggir jalan.

Langkah ini dilakukan guna memastikan TPST Mengwitani tidak mengalami kelebihan beban (overload) akibat masuknya sampah yang tidak terpilah, terutama setelah penutupan TPA Suwung untuk sampah organik per 1 April 2026 lalu.

Pilah Manual di Tengah Beban Overload

Ratusan petugas yang dijuluki “Pasukan Semut” ini memulai aktivitas sejak pukul 05.00 Wita. Setelah menyapu jalanan protokol, mereka berkumpul di tempat pengolahan pada pukul 08.00 Wita untuk memilah secara manual sekitar 40 hingga 50 ton sampah liar yang masih tercampur.

Sekretaris DLHK Badung, Made Rai Warastuthi, mengungkapkan bahwa sebagian besar sampah liar tersebut ditemukan di kawasan emas pariwisata seperti Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan.

“Sampah-sampah itu diletakkan oleh oknum yang diduga belum sadar pentingnya memilah. Kami terpaksa membawanya ke TPST dan memilahnya secara manual demi menjaga citra pariwisata Badung,” ujar Rai Warastuthi, Jumat (17/4/2026).

Ancaman Sanksi Tipiring

Kondisi TPST Mengwitani saat ini dilaporkan sudah mengalami kelebihan beban. Rai menegaskan, budaya “praktis” masyarakat yang enggan memisahkan sampah organik dan anorganik memperburuk situasi di hilir. Sebagai solusinya, Pemkab Badung kini mulai memperkuat pengawasan dengan melibatkan Satpol PP dan Satgas di tingkat desa/kelurahan.

Sanksi tegas kini menanti para pelanggar. “Pimpinan sudah mendorong satgas aktif. Satpol PP juga merencanakan setiap hari Rabu diadakan sidang tindak pidana ringan (tipiring) bagi warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan,” tegasnya.

Selain pengerahan tenaga manusia, DLHK Badung juga mengoptimalkan mesin pemilah organik, pencacah kayu, hingga pengaduk kompos. Namun, Rai mengingatkan bahwa teknologi dan ratusan petugas tidak akan cukup tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah (hulu). (Gus-Kab).

kabar Lainnya