

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Suasana penuh antusiasme dan semangat gotong royong menyelimuti warga Desa Adat Akah, Kabupaten Klungkung, saat melangsungkan karya selama September-Oktober 2026.
Salah satunya rangkaian Upacara Nyenuk, Kebat Daun, Mebangun Ayu, hingga Penyineb Nuwek Bagia, Sabtu (24/10/2026).
Upacara sakral ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian Karya Pamungkah Tawur Agung Nabung Pedagingan, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Agung yang dipusatkan di Pura Desa, Pura Puseh, serta Pura Taman Pucak Sari. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ketua DPRD Kabupaten Klungkung, Anak Agung Gde Anom.
Bendesa Adat Akah, I Ketut Wirta, menjelaskan bahwa Upacara Nyenuk merupakan wujud ungkapan rasa syukur mendalam atas kelancaran seluruh tahapan karya suci yang telah berlangsung. Dalam prosesi tersebut, krama beriringan membawa aneka sarana upakara serta hasil bumi (pula kerti), yang melambangkan turunnya para dewata untuk menganugerahkan kedamaian, kemakmuran, dan kerahayuan bagi masyarakat.
“Upacara yang dipuput oleh Ida Pedanda Gde Batuaji Griya Batuaji Desa Akah ini mencerminkan kesucian, kebersamaan, dan keteguhan sradha bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya, ritual Mebangun Ayu dan Kebat Daun diselenggarakan sebagai simbol penataan keharmonisan antara alam semesta (palemahan), hubungan sosial masyarakat (pawongan), dan spiritual (parahyangan),” ujar Ketut Wirta.
Rangkaian prosesi kemudian ditutup secara resmi melalui ritual Penyineb dan Nuwek Bagia Pulakerti. Ritual Nuwek Bagia sendiri menjadi simbol penguncian dan penetapan segala doa kebaikan, keselamatan, serta keberkahan agar senantiasa melingkupi seluruh warga Desa Adat Akah.

Pelaksanaan Karya Agung kali ini menjadi momen yang sangat istimewa dan bersejarah bagi masyarakat setempat. Pasalnya, karya suci yang melibatkan tiga pura sekaligus ini baru dapat digelar kembali setelah penantian selama 37 tahun, di mana upacara serupa terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1989 silam.
“Desa Adat Akah terdiri dari 6 banjar dan memiliki 4 pura. Setelah seluruh pura selesai direnovasi, tahun ini kami melangsungkan karya suci untuk tiga pura sekaligus, dengan puncak karya yang telah sukses dilaksanakan pada Senin, 19 Oktober lalu,” jelas Ketut Wirta.

Mengingat skala upacara yang besar dan mencakup tiga lokasi pura sekaligus, pembiayaan karya mencapai miliaran rupiah. Pendanaan tersebut bersumber dari kolaborasi bantuan pemerintah daerah melalui dana hibah sebesar Rp 3 miliar—yang diinisiasi oleh Ketua DPRD Klungkung, Anak Agung Gde Anom, yang juga berasal dari Puri Akah—serta swadaya (punia) dari krama adat setempat.
“Melalui pelaksanaan karya suci ini, kami berharap semangat gotong royong dan menyama braya warga Desa Adat Akah semakin erat sebagai wujud sradha bhakti kita kehadapan Ida Sesuhunan,” pungkasnya.
Rangkaian yadnya agung ini selanjutnya akan ditutup dengan upacara Matirta Yatra – Nyegara Gunung yang dijadwalkan berlangsung ke Tampak Siring dan Goa Lawah pada Senin, 2 November 2026 mendatang. (Sta-Kab).