KABARBALI.ID – Rangkaian Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan memiliki lintasan spiritual yang panjang dan sarat makna bagi umat Hindu di Bali. Salah satu hari krusial yang menandai transisi penting dalam rangkaian ini adalah Hari Ulihan. Secara etimologi, kata “Ulihan” memiliki arti “pulang” atau “kembali”.
Secara periodisasi kalender Bali, Hari Ulihan jatuh pada Redite Wage Kuningan (Minggu Wage wuku Kuningan), tepat empat hari setelah puncak Galungan atau enam hari menjelang Hari Raya Kuningan, Seperti pada Minggu 21 Juni 2026.
Hari ini dimaknai secara mendalam sebagai momentum bagi umat untuk mengantar roh para dewa dan leluhur (Dewata dan Pitara) kembali ke singgasana suci mereka di alam nirwana, setelah beberapa hari berstana di merajan atau sanggah keluarga sejak hari Galungan.
Secara teologis, Ulihan menjadi ruang bagi umat untuk mengucapkan rasa syukur terdalam karena seluruh rangkaian perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma telah berjalan dengan aman dan lancar.
Sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada para leluhur, umat Hindu menghaturkan berbagai sarana upacara atau sesaji khusus di rong sanggah/merajan. Sarana tersebut di antaranya berupa canang raka, soda, serta perlambang “bekal” perjalanan spiritual bagi para leluhur.
Bekal tersebut diwujudkan melalui hasil bumi dan pangan lokal tradisional, seperti:
Sayur-sayuran segar dan buah-buahan.
Urutan (sosis tradisional Bali).
Beras murni.
Meskipun esensi spiritualnya sama, perayaan Hari Ulihan secara khusus tidak dirayakan secara masif di seluruh wilayah Bali. Terjadi dinamika kebudayaan setempat (local genius) yang melahirkan tradisi unik di beberapa kabupaten:
Buleleng (Kawasan Tamblingan): Di wilayah catur desa adat di sekitar Danau Tamblingan, hari Ulihan tetap memegang peranan penting dalam tradisi domestik keluarga sebagai penanda kepulangan leluhur yang khidmat.
Tabanan (Desa Adat Sanda, Pupuan): Krama di wilayah ini memiliki tradisi yang sangat khas bernama Banten Entil Sanda. Berbeda dengan daerah lain, mereka menggunakan kuliner lokal “entil” (makanan sejenis ketupat yang dibungkus daun khusus) sebagai sarana utama upakara pada hari Ulihan.
Klungkung: Berbeda dengan Buleleng dan Tabanan, sebagian besar krama di Kabupaten Klungkung tidak melaksanakan ritual khusus penghantaran leluhur pada hari Minggu Ulihan ini. Masyarakat Klungkung secara turun-temurun menghantarkan atau ngulihang leluhur bertepatan pada puncak Hari Raya Kuningan, yang akrab disebut dengan tradisi Ngelebar.
Keragaman cara ini menunjukkan betapa kayanya tradisi Hindu-Bali, di mana perbedaan tata cara (desa kala patra) justru mempertegas keindahan toleransi dan pelestarian budaya purba yang masih relevan hingga saat ini. (Kab)