Sempat Vakum 6 Tahun, Festasada Kembali Gebrak Buleleng dengan Akulturasi Budaya Unik Desa Panji hingga Pegayaman!

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra saat membuka secara resmi Festival Seni Adat dan Budaya Sukasada (Festasada) 2026 di RTH Taman Bung Karno, Jumat (17/4/2026).Budaya Bali, kabar Gianyar.

BULELENG, KABARBALI.ID – Festival Seni Adat dan Budaya Sukasada (Festasada) 2026 resmi dibuka oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno, Jumat (17/4/2026). Perhelatan ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan kekayaan seni dan adat lokal di Kecamatan Sukasada setelah sempat vakum sejak tahun 2020.

Bupati Sutjidra menegaskan bahwa Festasada merupakan wadah strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan promosi ekonomi kreatif berbasis budaya.

Penguatan Jati diri dan Ekonomi Kreatif

Dalam sambutannya, Bupati Sutjidra menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Buleleng memberikan dukungan penuh terhadap festival ini sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berpijak pada potensi lokal.

“Festasada Tahun 2026 menjadi wadah strategis untuk menampilkan, melestarikan, sekaligus mengembangkan potensi seni dan budaya di Sukasada. Saya berharap tumbuh semangat kolaborasi antara pemerintah dan pelaku seni untuk menjaga warisan yang kita miliki,” ujar Bupati Sutjidra.

Ia juga berharap festival ini mampu menjadi etalase budaya yang menarik minat wisatawan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan perekonomian masyarakat Buleleng secara umum.

Momentum Kebangkitan Setelah Vakum

Plt. Camat Sukasada, I Komang Budiarsana, mengungkapkan kegembiraannya atas terselenggaranya kembali Festasada. Menurutnya, festival ini adalah kerinduan masyarakat akan panggung ekspresi budaya yang telah lama dinanti.

“Kami ingin membangkitkan kembali seni dan budaya Sukasada yang adiluhung dan menjadi kebanggaan bersama masyarakat Buleleng,” jelas Budiarsana.

Warna-warni Akulturasi Budaya

Festasada 2026 menyuguhkan ragam pertunjukan yang mencerminkan kekayaan dan toleransi di Sukasada. Beberapa kesenian ikonik yang ditampilkan antara lain Tari Selat Segara, atraksi tradisional Megoak-goakan dari Desa Panji, hingga Tari Rejang Renteng.

Tak hanya itu, festival ini juga menampilkan kesenian Burdah dari Desa Pegayaman, sebuah potret nyata akulturasi budaya yang harmonis di wilayah Sukasada. Kehadiran berbagai elemen seni ini diharapkan memperkuat jati diri masyarakat sekaligus mempererat kebersamaan dalam bingkai keberagaman.

kabar Lainnya