KABARBALI.id — Jauh sebelum agama Hindu berkembang pesat dan melahirkan sistem kepercayaan adat yang dominan di Bali saat ini, Pulau Dewata telah menjadi rumah yang ramah bagi spiritualitas dunia. Catatan arkeologi menunjukkan bahwa agama Buddha diperkirakan telah masuk ke Pulau Bali pada abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi.
Dibawa oleh para pedagang dan pendeta dari India melalui jalur perdagangan laut kuno, ajaran Buddha menjadi salah satu pilar pembentuk peradaban awal Bali, sebelum akhirnya melebur secara harmonis dalam sinkretisme kepercayaan lokal.
Berikut adalah rekonstruksi sejarah perkembangan awal dan bukti nyata peninggalan Buddhisme yang masih terjaga di Bali:
Abad VII – VIII Masehi: Ajaran Buddha aliran Mahayana (dengan kecenderungan kuat ke arah Wajrayana) masuk lebih dulu ke Bali, mendahului dominasi kerajaan Hindu-Jawa di era berikutnya.
Akulturasi Budaya yang Mulus: Ajaran ini tidak menghapus tradisi lokal, melainkan berasimilasi dengan sangat baik bersama kepercayaan asli (animisme) masyarakat Bali kuno. Dalam perjalanannya, umat Buddha di Bali hidup berdampingan secara damai dengan penganut aliran Saiwa (Siwa) dan Wisnu.
Bukti Arkeologis yang Valid: Jejak peninggalan tertua ajaran ini banyak ditemukan dalam bentuk situs, arca, dan prasasti batu/tanah liat di kawasan Bali Utara serta kawasan Pejeng (Kabupaten Gianyar).
Kawasan purbakala Desa Pejeng di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, diakui para peneliti sebagai salah satu pusat peradaban Bali Kuno yang menyimpan peninggalan Buddhisme bernilai sejarah tinggi. Keberadaan arca dan prasasti di daerah ini membuktikan kuatnya pengaruh aliran Buddha Mahayana dan Wajrayana (Tantrayana) di Bali sejak seribu tahun silam.
Sebagian besar artefak penting ini tersimpan rapi dan dapat dilihat langsung oleh masyarakat di Museum Arkeologi Gedong Arca Pejeng, serta di beberapa pura kuno di sekitarnya.
Berikut adalah empat klasifikasi peninggalan arca dan prasasti Buddha di daerah Pejeng:
Peninggalan yang paling ikonik, unik, dan ditemukan dalam jumlah melimpah di Pejeng adalah Stupika—yaitu miniatur stupa berbahan tanah liat yang berasal dari sekitar abad ke-8 Masehi.
Fungsi Ritual: Miniatur stupa ini dibuat oleh para pandita atau umat sebagai sarana persembahan keagamaan (votive offering) atau digunakan sebagai bekal kubur suci.
Mantra Kuno (Ye-Te Mantra): Di dalam rongga dasar stupika ini, terselip sebuah tablet atau materai tanah liat kecil berprasasti. Prasasti pendek ini ditulis menggunakan Aksara Pranagari (Prenagari) dan menggunakan Bahasa Sanskerta.
Isi Prasasti: Prasasti tersebut memuat rumusan mantra sakral agama Buddha yang dikenal sebagai Ye-te mantra (Ye dharma hetu prabhawa…). Mantra ini menguraikan hukum sebab-akibat serta jalan kelenyapan kedukaan yang merupakan inti ajaran Buddha Gautama. Karakter huruf pada tablet Pejeng ini memiliki kemiripan paleografis yang sangat kuat dengan tulisan di Candi Kalasan, Yogyakarta (778 M), membuktikan adanya hubungan kebudayaan antar-pulau yang erat pada zaman dulu.
Selain materai tanah liat berbentuk tulisan, di dalam rongga stupika maupun sebagai artefak mandiri, para arkeolog juga menemukan arca dan relief logam/batu berukuran kecil.
Perwujudan: Peninggalan ini menggambarkan figur mulia Dhyani Buddha dan Bodhisatwa dalam berbagai sikap posisi tangan (mudra) yang spesifik.
Simbolisme: Dalam tradisi Buddha Mahayana, keberadaan relief dan arca kecil ini merupakan lambang spiritual dari pencapaian Parinirwana atau kesempurnaan tertinggi.
Situs-situs purbakala di sekitar Pejeng dan Bedulu juga menyimpan tradisi penulisan epigrafis yang dipahatkan langsung pada fisik arca. Tulisan pendek ini biasanya dipahat pada bagian belakang atau sandaran arca (stela).
Prasasti-prasasti pendek ini berfungsi penting sebagai penanda formula keagamaan, nama tokoh atau donatur yang mendanai pembuatan arca, serta berfungsi sebagai mantra perlindungan spiritual pada masa Bali Kuno.
Pengaruh Buddha, khususnya sekte sekunder Wajrayana/Tantrayana, tidak hilang begitu saja melainkan melebur kuat pada arca-arca yang disucikan di dalam pura-pura lokal di Pejeng.
Bukti Sinkretisme: Salah satu contoh paling nyata berada di Pura Kebo Edan Pejeng. Di pura ini bersemayam sebuah arca raksasa berwujud menakutkan (Bhairawa). Figur ini merepresentasikan dengan sangat kuat adanya sinkretisme atau perpaduan ajaran mistis antara Siwa (Hindu) dan Buddha Tantra pada masa kejayaan Bali Kuno.
Adanya arca Bhairawa ini menjadi bukti otentik bahwa sejak masa lampau, masyarakat Bali telah memiliki kearifan lokal yang tinggi untuk mendamaikan dan menyatukan dua arus besar agama dunia menjadi sebuah kebudayaan baru yang eksotis dan penuh toleransi. (Kab).