DENPASAR, KABARBALI.ID – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan dukungan penuh terhadap perkembangan Financial Technology (Fintech) khususnya Pinjaman Daring (Pindar) di Bali. Namun, ia mengingatkan agar kemudahan akses pembiayaan digital ini tidak hanya menjadi jebakan utang konsumtif, melainkan harus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan hingga tingkat akar rumput.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menjadi pembicara dalam pembukaan Fintech Lending Days (FLD) 2026 yang berlangsung di Bali Sunset Road Convention Center (BSCC), Pemogan, Denpasar Selatan, Jumat (21/8/2026).
Koster menyoroti data nasional yang menunjukkan sekitar dua pertiga pembiayaan Pindar masih terserap untuk kebutuhan konsumtif masyarakat. Kondisi ini dinilainya belum sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mematok 40 hingga 50 persen porsi dana Pindar mengalir ke sektor produktif.
“Ini adalah tantangan bersama, utamanya pelaku industri. Kami berharap industri Pindar benar-benar memahami dan masuk ke ekosistem usaha lokal Bali, bukan hanya melihat Bali sebagai pasar, melainkan sebagai mitra yang karakteristiknya perlu dipahami,” ujar Gubernur Koster di hadapan para pelaku industri Pindar dan regulator.
Khusus di Pulau Dewata, Koster mendorong agar pembiayaan digital diprioritaskan untuk menyokong sektor-sektor strategis, seperti petani organik, pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya Bali, UMKM, hingga wirausaha muda.
Koster menambahkan, kemudahan memperoleh utang tanpa pemahaman memadai mengenai hak, kewajiban, dan risiko sebagai peminjam akan menjadi bumerang bagi masyarakat. Karena itu, Pemprov Bali siap memfasilitasi penguatan literasi keuangan dengan memanfaatkan jaringan 1.500 Desa Adat serta program literasi digital di SMA/SMK se-Bali.
“Yang kami harapkan adalah ekosistem pembiayaan digital yang sehat, tepat sasaran, produktif, transparan, dan melindungi konsumen. Bukan ekosistem yang tumbuh cepat tapi meninggalkan masalah di kemudian hari,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Bernadino Vega, mengakui Bali memiliki posisi sangat strategis. Dengan ekosistem mencapai 440 ribu UMKM, potensi Bali untuk garapan pembiayaan produktif sangat besar.
“Tantangan dalam industri Pindar bukan hanya dalam kemampuan penyediaan dana, tapi bagaimana kita mendorong semakin banyak pelaku usaha yang masuk dan terhubung dalam ekosistem keuangan,” sebut Bernadino.
Gelaran Fintech Lending Days 2026 yang diinisiasi AFPI bersama CNBC Indonesia mengusung tema “Advancing Indonesia’s Digital Financing Ecosystem”. Forum strategis ini menghadirkan jajaran regulator OJK, perbankan, investor, hingga Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun guna memperkuat ekosistem pembiayaan digital nasional. (Rls-Kab).