Spektakuler! Gianyar Lumpuh Sesaat demi Pawai Budaya dan Ogoh-ogoh Terbaik, Mahayastra: Budaya Adalah Roh Peradaban

Puncak Pekan Budaya HUT Kota Gianyar ke-255 berlangsung meriah

GIANYAR, KABARBALI.ID – Gemuruh suara gamelan berpadu dengan riuh tepuk tangan ribuan penonton yang memadati pusat Kota Gianyar, Jumat (17/4/2026). Suasana ini menandai puncak perayaan HUT ke-255 Kota Gianyar yang dikemas dalam Pawai Budaya dan parade ogoh-ogoh spektakuler dari tujuh kecamatan.

Acara dibuka dengan simbolis oleh tokoh nasional Prananda Prabowo bersama Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta dan Bupati Gianyar I Made Mahayastra dengan memanah anyaman patung—sebuah simbol harapan menuju Gianyar yang sejahtera, aman, dan nyaman.

Manifestasi Ajaran Trisakti

Bupati Gianyar I Made Mahayastra menegaskan bahwa pagelaran ini bukan sekadar tontonan musiman, melainkan sebuah manifestasi bakti terhadap warisan leluhur. Menurutnya, Gianyar sebagai jantung seni Bali memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kesinambungan tradisi di tengah arus modernisasi.

“Apa yang kita hadirkan hari ini merupakan pengejawantahan dari ajaran luhur Trisakti Bung Karno, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan. Budaya menjadi penyangga utama jati diri bangsa; ia bukan sekadar simbol, tetapi roh yang menghidupkan peradaban,” ujar Mahayastra dalam sambutannya.

Ia menambahkan, partisipasi aktif dari tujuh kecamatan serta parade ogoh-ogoh pilihan adalah bukti nyata bahwa daya cipta masyarakat Gianyar tidak pernah padam dan terus diwariskan dengan penuh kebanggaan.

Puncak Pekan Budaya HUT Kota Gianyar ke-255 berlangsung meriah dengan pawai budaya 7 kecamatan dan parade ogoh-ogoh terbaik

Garapan Inovatif Tujuh Kecamatan

Pawai Budaya diawali oleh Duta Kecamatan Payangan dengan garapan Buana Purnaning Jiwa, disusul oleh Kecamatan Sukawati yang mengangkat cerita rakyat Dukuh Pengubengan. Tak ketinggalan, Kecamatan Tampaksiring hadir dengan narasi suci Sastra Winaya Tirtha.

Kecamatan Tegallalang membawakan isu ekologi melalui Atma Kerti Ning Tegallalang, sementara Ubud memukau penonton dengan konsep mobile performance perjalanan spiritual Rsi Markandeya. Perjalanan sejarah juga ditampilkan oleh Kecamatan Blahbatuh melalui kisah Bebed Poleng, dan ditutup dengan apik oleh Duta Kecamatan Gianyar lewat lakon penyucian Sudhamala.

Parade Ogoh-ogoh Terbaik

Kemeriahan mencapai puncaknya saat tujuh ogoh-ogoh terbaik hasil seleksi ketat mulai bergerak. Penampilan spektakuler dari ST. Pandawa, Banjar Tarukan, Mas Ubud, yang membawakan judul Tugu Mayang, menjadi penutup yang menggetarkan hati penonton.

Sebelumnya, juara II diraih oleh ST. Eka Susila dengan tema Bhauma Suara, disusul juara III oleh ST. Giri Manila Sari dari Payangan dengan judul Bhuta Sigug. Prestasi ini menjadi cerminan kualitas seni generasi muda Gianyar yang terus meningkat setiap tahunnya.

Melalui momentum HUT ke-255 ini, Bupati Mahayastra mengajak masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai pijakan melangkah ke depan, memperkuat gotong royong, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan demi generasi masa depan. (Tut-Kab).

kabar Lainnya