Tradisi Mekandal: Merawat Harmoni dan Solidaritas Lewat Kawin Massal di Desa Pengotan Bangli

Suasana khidmat enam pasang pengantin saat mengikuti prosesi upacara Mekandal di Pura Penataran Agung Desa Pengotan, Bangli, Selasa (14/4/2026).

BANGLI, KABARBALI.ID – Desa Adat Pengotan di Kecamatan Bangli kembali menggelar tradisi Mekandal atau kawin massal, sebuah warisan budaya luhur yang telah dijaga secara turun-temurun. Pada Selasa (14/4/2026), sebanyak enam pasang pengantin mengikuti prosesi sakral ini di Pura Penataran Agung Desa Pengotan.

Tradisi nganten massal ini bukan sekadar prosesi administratif pengesahan suami istri, melainkan identitas kultural yang merefleksikan falsafah hidup masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Prosesi Sakral di Sasih Kadasa

Pelaksanaan upacara kali ini bertepatan dengan Sasih Kadasa. Berdasarkan kalender Isaka, Desa Pengotan secara konsisten menggelar tradisi ini dua kali dalam setahun, yakni pada Sasih Kapat (Agustus-September) dan Sasih Kadasa (Maret-April).

Prosesi dipuput oleh Jro Dalang Lingsir serta didampingi oleh Bendesa Adat dan para Prajuru Desa Adat Pengotan.

“Upacara yang dilaksanakan di Bale Agung ini memberikan arti penyucian bagi kedua pasangan. Secara agama dan adat, mereka kini sah memasuki tahapan kehidupan baru dengan tanggung jawab sebagai warga adat di Pengotan,” kata Bhabinkamtibmas Desa Pengotan, Aiptu I Dewa Gede Kardiasa.

Fungsi Sosial dan Solidaritas

Mekandal memiliki dimensi sosial yang luas. Selain fungsi ritual dan penyucian, tradisi ini berperan kuat sebagai alat pemersatu masyarakat. Dengan melaksanakan pernikahan secara bersama-sama, rasa kebersamaan dan solidaritas antarwarga desa semakin kokoh.

Selain itu, tradisi ini berfungsi sebagai bentuk pengendalian sosial. Dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh para dulu (pemimpin adat), masyarakat memiliki tatanan yang teratur dalam memulai jenjang kehidupan berkeluarga.

Sinergi Keamanan di Tengah Masyarakat

Kelancaran kegiatan sakral ini tak lepas dari peran aktif aparat keamanan. Bhabinkamtibmas Desa Pengotan, Aiptu I Dewa Gede Kardiasa, tampak bersinergi dengan Pecalang dan Bakamda untuk melakukan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas di sekitar pura.

“Kami hadir untuk memastikan situasi tetap kondusif, membantu penyeberangan warga, dan memastikan para pengantin serta tamu undangan dapat mengikuti prosesi dengan khidmat,” ujar Aiptu Dewa Gede Kardiasa.

Sinergitas antara kepolisian dan unsur adat menjadi kunci utama terciptanya suasana tertib selama kegiatan berlangsung pukul 09.00 WITA hingga selesai. Kehadiran petugas di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memperkuat pelestarian kearifan lokal yang menjadi kebanggaan Kabupaten Bangli. (Sam-Kab).

kabar Lainnya