Usung Genre Pop-Rock Berbahasa Bali, Satria n Band Rilis Single “Bukan Pemenang Hatimu”

Vokalis Satria n Band, I Wayan Satria Prayuda , didampingi sutradara Dika Pratama saat memberikan keterangan pers terkait peluncuran single berbahasa Bali ‘Bukan Pemenang Hatimu’ di Badung, Jumat (4/9/2026).

BADUNG, KABARBALI.ID – Dunia seni musik di Bali kembali diramaikan oleh hadirnya talenta lokal berbakat. Musisi asal Legian, Badung, I Wayan Satria Prayuda (39), bersama grup musiknya, Satria n Band, resmi memperkenalkan single terbaru bernuansa pop-rock berbahasa Bali bertajuk “Bukan Pemenang Hatimu”.

Peluncuran lagu ini berhasil mencuri perhatian para pencinta musik tanah air, khususnya para penikmat lagu berbahasa Bali modern.

Dalam grup musik tersebut, Satria yang memiliki latar belakang sebagai fotografer bertindak sebagai vokalis. Ia didampingi oleh rekan-rekan musisinya, yakni Obin (gitaris utama), Arsia (gitaris ritem), Erin (bassis), dan Yuda (drummer).

Satria menuturkan, seluruh proses pengerjaan lagu—mulai dari penyusunan lirik, aransemen musik, hingga pembuatan video klip—membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

“Kurang lebih satu bulan untuk pembuatan aransemen musiknya, sedangkan untuk pengerjaan video klipnya memakan waktu satu minggu. Astungkara, karya musik kami kini sudah bisa diakses di berbagai platform digital,” ujar Wayan Satria, Jumat (4/9/2026).

Karya perdana dari Satria n Band ini bahkan telah merambah platform musik digital internasional hingga dapat dinikmati oleh pendengar di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat.

Gali Pengalaman Asmara Remaja dalam Visual Sinematik

Lagu “Bukan Pemenang Hatimu” dikemas dalam bentuk video klip berdurasi sekitar empat menit yang ditangani oleh sutradara sekaligus produser Dika Pratama.

Proses pengambilan gambar video klip mengusung konsep cinematic dan dilakukan di tiga lokasi berbeda di Bali, yakni Studio Dragon Sound Pedungan (Denpasar), kawasan Pusat Kebudayaan Bali/PKB Klungkung, serta jalur shortcut Buleleng–Denpasar.

Secara alur cerita, video klip tersebut diangkat langsung dari pengalaman pribadi Wayan Satria masa remaja. Alur ceritanya mengisahkan perjalanan cinta masa muda yang penuh perjuangan, namun akhirnya berujung luka lantaran pengorbanan yang diberikan tetap dianggap tidak cukup oleh sang kekasih.

Dika Pratama menyampaikan, proses pengarahan adegan berjalan lancar berkat chemistry yang kuat antara dua model utama, yakni Wayan Satria dan Pebria Satyaki.

“Syukurnya tidak sulit untuk mengarahkan kedua model ini. Seluruh proses produksi video klip dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu minggu tanpa kendala berarti,” terang Dika Pratama.

Harapan Menembus Pasar Musik Nasional hingga Mancanegara

Lewat karya perdana ini, baik personel Satria n Band maupun tim produksi berharap karya lagu berbahasa Bali dapat makin diterima secara luas oleh penikmat musik lintas daerah maupun internasional.

Bahasa daerah dinilai bukan menjadi penghalang bagi penikmat musik untuk menikmati aransemen dan pesan emosional yang disampaikan dalam sebuah lagu.

“Harapan kami tentu musik ini bisa diterima oleh seluruh pecinta musik, tidak hanya di Bali tetapi juga di tingkat nasional hingga luar negeri. Lagu berbahasa Bali merupakan salah satu identitas karya yang bisa kita ciptakan dengan baik,” pungkas Wayan Satria. (Irw-Kab).

kabar Lainnya