DENPASAR, KABARBALI.ID – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kesehatan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus maupun suspek Hantavirus di wilayah Bali. Langkah ini diambil sebagai respons cepat menanggapi laporan temuan kasus serupa di beberapa wilayah lain di Indonesia.
Meski status Bali masih nihil kasus, otoritas kesehatan tetap mengambil langkah preventif dengan memperketat surveilans terpadu di pintu-pintu masuk seperti pelabuhan dan bandara, serta wilayah kerja yang memiliki risiko tinggi.
“Hingga saat ini belum ada kasus maupun suspek Hantavirus yang terdeteksi di Bali. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, melalui keterangan tertulisnya yang dikutip Kabarbali.id, Rabu (13/5).
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, melalui kotoran, urine, atau air liur yang terinfeksi. Berbeda dengan COVID-19, virus ini tidak menular antarmanusia. Penularan ke manusia umumnya terjadi saat seseorang menghirup debu yang telah terkontaminasi kotoran tikus tersebut.
Gejala awal penyakit ini sering kali mengecoh karena mirip dengan flu berat, meliputi demam, pusing, hingga nyeri otot. Namun, jika kondisi semakin parah, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan yang serius.
Dinas Kesehatan Provinsi Bali kini memperkuat koordinasi dengan fasilitas kesehatan (Faskes) di seluruh Bali untuk memantau pasien yang menunjukkan gejala flu berat dengan riwayat kontak dengan tikus. Selain itu, skrining ketat juga diberlakukan bagi pekerja migran maupun kru kapal pesiar yang kembali ke Pulau Dewata.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering agar debu tidak beterbangan. Disarankan untuk menyemprotkan disinfektan terlebih dahulu dan selalu menggunakan masker serta sarung tangan saat membersihkan area yang lama tidak terpakai. (Rls-Kab).