KABARBALI.ID –Masyarakat Hindu di Bali menyambut pertemuan dua hari suci yang dianggap memiliki energi spiritual luar biasa kuat, yakni Kajeng Kliwon Uwudan dan Buda Kliwon Gumbreg, Rabu (13/5/2026).
Pertemuan ini dianggap sebagai waktu krusial bagi umat untuk meningkatkan kewaspadaan diri (eling) serta menghaturkan persembahan guna menjaga harmoni alam semesta.
Secara filosofis, Kajeng Kliwon adalah saat di mana Bhuta Kala turun untuk menilai manusia, sementara Buda Kliwon Gumbreg merupakan momentum pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa Siwa demi keselamatan jagat raya.
Menilik dari Lontar Sundarigama, Kajeng Kliwon Uwudan merupakan jenis Kajeng Kliwon yang jatuh setelah bulan Purnama. Momen ini sering dikaitkan dengan peningkatan energi magis. Dalam pokok-pokok Wariga, disebutkan bahwa energi pada hari ini sangat kuat, bahkan sering dianggap waktu yang tepat untuk mengaktifkan kekuatan spiritual tertentu.
Namun, bagi masyarakat umum, fokus utama hari ini adalah menetralisir kekuatan negatif. Lontar Sundarigama memberikan petunjuk rinci:
“Nihan taya amanah, kunang ring panca terane, semadi Bhatara Siwa… Wehana sasuguh ring natar umah, sanggar, ring dengen.”
Umat diimbau untuk menghaturkan persembahan berupa segehan panca warna sebanyak lima tanding di halaman rumah (natar), pintu keluar (dengen), dan sanggah.
Di bagian atas pintu (kori), dihaturkan pula canang wangi-wangi dan canang yasa yang dipersembahkan kepada Hyang Durga Dewi agar memberikan perlindungan bagi penghuni rumah.
Peringatan Sang Kala Tiga Bhucari
Jika upacara pada hari keramat ini diabaikan, sastra agama memperingatkan adanya gangguan dari Sang Kala Tiga Bhucari (Sang Durga Bhucari, Kala Bhucari, dan Bhuta Bhucari). Tanpa persembahan yang tepat, kekuatan ini diyakini dapat memicu ketidakharmonisan rumah tangga, mendatangkan penyakit, hingga memancing datangnya kekuatan ilmu hitam (desti, teluh, neranjana).
Berbarengan dengan itu, Buda Kliwon Gumbreg menjadi saat penyucian “Sang Hyang Ayu” atau kebersihan jiwa. Melalui pemujaan Hyang Nirmala Jati, umat menghaturkan banten canang yasa dan kembang payas di atas tempat tidur serta di sanggah/pemerajan.
Tujuan utama dari upacara Buda Kliwon ini mencakup tiga lapis keselamatan (Tri Mandala):
Momentum langka pertemuan dua hari suci ini menjadi pengingat bagi masyarakat Bali untuk berhenti sejenak dari rutinitas duniawi, memperkuat bakti kepada Tuhan, dan menyeimbangkan energi diri demi terwujudnya kebahagiaan lahir batin (Moksartham Jagadhita). (Kab).