KABARBALI.ID – Perhitungan hari baik atau ala-ayuning dewasa berdasarkan ilmu wariga merupakan aspek krusial yang tetap dilestarikan masyarakat Hindu di Bali dalam memulai berbagai aktivitas.
Berdasarkan penanggalan kalender Bali untuk hari Sabtu, 6 Juni 2026, terdapat kombinasi energi yang sangat mendukung aktivitas konstruksi, kegiatan nelayan, dan sosial, namun di sisi lain memuat pantangan ketat terkait rapat koordinasi dan upacara keagamaan.
Bagi masyarakat yang berencana melakukan pembangunan fisik, hari ini dinaungi oleh Kala Empas Munggah, yang dinilai sangat baik untuk memulai pembangunan rumah tinggal. Selain itu, aura kebersamaan juga sangat kental berkat pengaruh Semut Sedulur. Unsur ini membawa energi positif bagi warga yang ingin menggelar aksi gotong royong, kerja bakti, memulai kampanye, maupun membentuk suatu perkumpulan atau komunitas baru.
Sektor maritim dan kerajinan alat pancing juga mendapat berkah hari ini. Melalui perpaduan Kala Caplokan, Kala Jangkut, dan Kala Jengking, hari Sabtu ini menjadi waktu terbaik (dewasa ayu) untuk membuat alat penangkap ikan seperti pancing, jala, jaring, bubu, seser, serta meracik bahan umpan.
Bagi generasi muda atau sanggar seni, Kala Jengking juga memberikan restu yang baik untuk mulai belajar menari dan menabuh gamelan.
“Hari ini sangat produktif untuk pembangunan fisik dan kreativitas seni serta alat tangkap ikan. Namun, ada catatan merah yang cukup banyak untuk sektor birokrasi, pertanian, dan upacara sakral,”
BMKG kearifan lokal (wariga) mengingatkan sejumlah larangan penting. Dari sisi organisasi dan pemerintahan, terdapat unsur Ratu Megambahan yang melarang keras pembuatan peraturan-peraturan baru, penyusunan rencana strategis, hingga pengangkatan petugas atau pejabat baru pada hari ini.
Sementara itu, bagi krama adat, kombinasi Dadig Krana, Kala Jengking, dan Pamacekan menegaskan bahwa hari ini tidak baik untuk melaksanakan upacara yadnya, baik Manusa Yadnya (pernikahan, potong rambut) maupun upacara pembakaran mayat (atiwa-tiwa/ngaben). Dadig Krana juga melarang diadakannya pertemuan resmi atau rapat, serta aktivitas bersenggama bagi pasangan suami istri.
Di sektor pertanian dan peternakan, krama diimbau berhati-hati karena adanya Kala Sor yang melarang aktivitas yang berhubungan langsung dengan tanah seperti membajak dan bercocok tanam. Serta adanya Kala Bangkung dan Kala Nanggung yang menjadi pantangan untuk mulai memelihara hewan ternak baru.
Secara makro, konstelasi hari ini berada dalam lintasan Pararasan: Laku Bintang dan Pancasuda: Satria Wirang, yang mengisyaratkan adanya tantangan atau ujian emosi namun tetap bisa dilewati dengan bijaksana. Hal ini diperkuat oleh Ekajalaresi: Subagia (keberuntungan/kebahagiaan) dan Pratiti: Saskara yang melambangkan proses menuju kemurnian pikiran. (Kab).