Jatuh pada Soma Kliwon Kuningan, Ini Makna Filosofis Pemacekan Agung dan Ritual yang Dilakukan Umat Hindu

KABARBALI.ID – Rangkaian perayaan hari suci bagi umat Hindu di Bali pasca-Galungan masih terus bergulir. Tepat lima hari setelah merayakan hari kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan), umat Hindu kembali menyambut hari sakral yang disebut Hari Raya Pemacekan Agung, Senin (22/6/2026).

Hari raya yang jatuh secara periodik pada hari Soma Kliwon, Wuku Kuningan ini merupakan tonggak spiritual yang sangat penting.

Pemacekan Agung dimaknai sebagai momentum sakral untuk memohon keselamatan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus menjadi alarm pengingat bagi umat untuk meneguhkan janji diri dalam menjaga kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Secara filosofis, hari suci ini menekankan bahwa mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit daripada meraihnya. Umat Hindu diingatkan agar euforia kemenangan melawan adharma saat Galungan tidak pudar dan runtuh akibat dominasi ego pribadi maupun kesombongan.

“Pemacekan Agung adalah saat di mana panji-panji dharma ditancapkan dan ditegakkan dengan kokoh. Tujuannya agar segala bentuk musuh, baik yang berasal dari luar diri maupun yang bersumber dari dalam diri, tidak memiliki kesempatan dan kekuatan untuk melemahkan jati diri kita sebagai manusia yang beretika (manusa sane masesana),” demikian intisari filosofi hari suci ini dikutip kabarbali.id.

Rujukan Lontar Dharma Kahuripan

Secara etimologi, nama hari raya ini berasal dari dua urat kata luhur, yaitu pacek yang berarti menancapkan, memusatkan, atau teguh, serta agung yang berarti besar, mulia, atau utama.

Landasan teologis mengenai hari raya ini tertuang secara tersurat dalam teks suci Lontar Dharma Kahuripan, yang berbunyi:

“Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma”

Artinya: Pemacekan Agung namanya demikian, adalah pemusatan diri dengan sarana tapa (janji diri) kehadapan Sanghyang Dharma.

Kutipan tersebut menegaskan bahwa Pemacekan Agung adalah sebuah bentuk tapasya nyata untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kebaikan dalam setiap tindak-tanduk verbal maupun perbuatan guna mengisi hidup, sehingga kesucian diri tidak tersapu oleh godaan ahamkara (keakuan/kesombongan).

Aktivitas Ritual dan Tujuan Spiritual Umat

Pada hari suci ini, krama Hindu di Bali melangsungkan sejumlah aktivitas keagamaan rutin yang melibatkan internal keluarga maupun lingkungan pekarangan rumah:

  • Pemujaan Pagi/Siang Hari: Umat Hindu menghaturkan upacara yadnya (persembahan banten) di areal merajan atau sanggah keluarga sebagai wujud rasa syukur dan pemujaan atas manifestasi Tuhan sebagai penjaga keteraturan alam.

  • Ritual Sore Hari (Masegeh): Memasuki waktu sandikala (sore hari), umat biasanya menghaturkan sarana segehan di areal halaman rumah serta pintu keluar pekarangan. Ritual ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif (bhuta kala) agar tercipta keharmonisan ruang hidup.

  • Evaluasi Diri: Menjadi tonggak kebangkitan kesadaran diri untuk menghindari perbuatan jahat dan menjauhkan diri dari sifat serakah serta momo angkara.

Melalui penancapan spiritual yang kuat pada Hari Raya Pemacekan Agung ini, umat Hindu diharapkan siap mental dan rohani dalam menyambut puncak Hari Raya Kuningan yang akan jatuh pada hari Sabtu mendatang. (Pur-Kab).

kabar Lainnya