KABARBALI.ID – Krama Hindu di Bali bersiap menyambut rerahinan suci Anggara Kasih Julungwangi yang jatuh pada hari Selasa (2/6/2026).
Rerahinan penting yang datang setiap 210 hari sekali ini terbentuk dari pertemuan tiga unsur kalender Bali, yakni Saptawara Anggara (Selasa), Pancawara Kliwon, dan siklus Wuku Julungwangi.
Bukan sekadar ritual periodik biasa, Anggara Kasih kerap dianalogikan sebagai hari kasih sayang universal dalam tradisi Hindu Bali. Hari suci ini menjadi ruang spiritual bagi umat untuk memancarkan cinta kasih kepada manifestasi Tuhan, diri sendiri, maupun lingkungan sekitar.
Secara substansial, Anggara Kasih Julungwangi menekankan dua dimensi penyucian, yakni pembersihan batin manusia (Bhuwana Alit) dan harmonisasi alam semesta (Bhuwana Agung).
Refleksi Diri: Hari raya ini menjadi waktu yang paling tepat bagi umat untuk melakukan introspeksi total, membersihkan diri dari endapan kecemasan, rasa benci, serta melebur keangkuhan ego.
Memancarkan Kasih: Energi kosmik yang hadir di hari Anggara Kliwon dipercaya sangat peka terhadap getaran cinta kasih, sehingga umat Hindu diwajibkan mengondisikan pikiran agar tetap suci dan damai.
Panduan mengenai pelaksanaan hari suci ini tertuang secara eksplisit dalam teks sastra agama kuno, Lontar Sundarigama. Dalam lontar tersebut tersurat kutipan suci sebagai berikut:
“Nahanta waneh, rengen denta, Anggara Keliyon ngarania Anggara Kasih, pekenania pengasianing raga sarira. Sadekala samana yogia wang amugpug angelakat sealaning sarira, wigenaning awak, dena ayoga wang apan ika yoganira, Betara Ludra, merelina alaning jagat teraya, pakertinia aturakna wangi-wangi, puspa wangi, asep astanggi muang tirta gocara.”
Terjemahan dan Kandungan Maknanya :
Pengasianing Raga Sarira: Ketika hari Selasa bertemu dengan Kliwon, maka dinamakan Anggara Kasih. Hari ini sejatinya merupakan momentum emas untuk mewujudkan serta merawat rasa cinta kasih yang tulus terhadap diri sendiri (raga sarira), yang kemudian diakumulasikan kepada seluruh makhluk hidup.
Peleburan Kecemaran Pikiran: Pada hari ini, umat sepatutnya melakukan ritual pembersihan atau peleburan dosa, serta merawat diri dari segala bentuk kecemaran. Sastra Sundarigama menggarisbawahi bahwa kecemaran utama yang wajib dibersihkan adalah kotoran pikiran yang melekat pada diri manusia. Caranya adalah dengan mengambil jarak sejenak dari keduniawian melalui aktivitas renungan suci atau meditasi.
Yoga Sang Hyang Ludra: Alasan teologis di balik pentingnya renungan ini adalah karena pada saat Anggara Kasih, Sang Hyang Siwa dalam manifestasinya sebagai Batara Ludra sedang melakukan yoga agung. Tujuan dari yoga skala makro ini adalah untuk melebur, memusnahkan, dan menetralisasi segala bentuk kekotoran serta kejahatan yang ada di alam semesta (merelina alaning jagat teraya).
Untuk menyelaraskan diri dengan yoga Batara Ludra, Lontar Sundarigama tidak menuntut sarana upakara yang rumit atau berbiaya besar. Umat Hindu diimbau untuk mengutamakan esensi ketenangan batin melalui sarana-sarana yang menggugah kesucian indra:
Puspa Wangi: Mempersembahkan bunga-bunga yang harum sebagai simbol keindahan dan ketulusan hati.
Asep/Dupa Astangi: Menyalakan dupa harum (astangi) untuk menciptakan atmosfer sakral dan membantu memfokuskan pikiran saat kramaning sembah.
Tirta Gocara: Ritual diakhiri dengan memohon dan meminum air suci (matirtha) sebagai lambang pembersihan fisik dan rohani dari segala noda spiritual.
Melalui momentum Anggara Kasih Julungwangi ini, masyarakat Bali diharapkan dapat menata kembali kesehatan mental dan spiritualnya, menyebarkan vibrasi damai di lingkungan keluarga, serta siap menyongsong rangkaian menyambut Hari Raya Besar Galungan yang akan datang pertengahan Juni nanti. (Pur-Kab).