Rumah dan Pelabuhan Hilang di Klungkung, 12 KK Ngungsi – Imbas Gelombang Pasang

Rumah warga hancur, pelabuhan Mongalan Klungkung tinggal nama, Selasa (19/5/2026). Foto/kabarbali.id

KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Krisis lingkungan akibat abrasi dan fenomena gelombang pasang ekstrem kian mencekam di pesisir Kabupaten Klungkung.

Kawasan Pantai Monggalan, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, luluh lantak diterjang ombak besar berturut-turut sejak beberapa hari terakhir.

Hingga Selasa (19/5/2026), bencana ekologis ini telah memaksa sedikitnya 12 Kepala Keluarga (KK) angkat kaki dan mengungsi setelah bangunan rumah tinggal mereka hancur digulung laut.

Tak hanya pemukiman, infrastruktur vital berupa pelabuhan penyeberangan barang tradisional yang melayani rute antar-pulau menuju Nusa Penida dan Lembongan lenyap ditelan ombak sejak dua hari lalu.

Salah satu warga terdampak, Anak Agung Raka, dengan nada pasrah mengungkapkan bahwa kondisi daratan di Pantai Monggalan saat ini sudah masuk fase tidak tertolong. Ketiadaan tanggul penahan membuat ombak bebas mengikis apa saja yang ada di pesisir.

“Kondisi pantai sudah tidak tertolong lagi, daratannya habis. Saat ini warga hanya fokus menyelamatkan diri masing-masing dan menumpang di rumah kerabat terdekat. Pelabuhan barang sudah sama sekali tidak bisa digunakan, bahkan pantai tempat pendaratan perahu ikan (nelayan) di tempat ini juga ikut hilang total,” ujar Anak Agung Raka pilu.

Air Masuk Total ke Rumah Warga, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

Perbekel (Kepala Desa) Kusamba, Nengah Semadi Adnyana, membenarkan bahwa amukan air laut di pesisir Monggalan kembali memuncak pada Minggu (17/5/2026) malam hingga hari ini. Gempuran ombak kali ini jauh lebih masif dan memperparah kerusakan dari bencana abrasi yang terjadi sebelumnya.

Dijabarkan, sebelumnya tercatat ada 11 KK yang mengungsi. Namun, angka tersebut bertambah satu keluarga lagi lantaran rumah milik warga bernama Ketut Candra Arsadi terendam banjir rob total.

”Air pasang yang biasanya hanya sampai di pekarangan pinggir rumah, kini sudah menjebol dan masuk total ke dalam rumah Ketut Candra Arsadi. Barang-barangnya sudah berhasil diangkut bergotong-royong hari ini. Karena rumahnya sudah tidak aman, mereka terpaksa ikut mengungsi, sehingga total saat ini ada 12 KK yang kehilangan tempat tinggal,” ungkap Perbekel Kusamba.

Melihat eskalasi bencana yang kian mengkhawatirkan, Semadi Adnyana mengetuk pintu hati pemerintah jajaran atas agar proyek penanganan darurat abrasi di Pantai Monggalan segera dieksekusi.

Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penahan, ia khawatir seluruh daratan Monggalan akan terhapus dari peta.

“Pelabuhan barang hilang, jangan sampai ke timur lagi, ditimur ada dermaga penumpang orang, ini harus segera diatasi,” harapnya.

Ia juga menaruh harapan besar agar realisasi bantuan tempat tinggal bagi para pengungsi, baik dalam skema pembangunan hunian rumah deret maupun program bedah rumah relokasi, bisa segera diwujudkan dalam waktu dekat.

Pemkab Siapkan Rumah Deret, Tim Pusat Mulai Turun Tangan

Merespons jeritan warga pesisir Bumi Serombotan, Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra, menyatakan bahwa terjangan abrasi parah ini memang sulit dibendung akibat faktor cuaca ekstrem dan fenomena alam yang melanda perairan selatan Bali.

Kendati demikian, Pemkab Klungkung menegaskan tidak akan tinggal diam dan telah merumuskan langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk menjamin kelayakan hidup para pengungsi, Pemkab saat ini tengah mematangkan penyiapan lahan dan unit di lokasi proyek rumah deret sebagai tempat relokasi permanen warga terdampak.

“Untuk penanganan jangka panjang berupa pembangunan tanggul pengaman pantai (seawall), tim teknis dari pemerintah pusat sudah turun ke lapangan kemarin,” ujarnya.

Langkah cepat pusat ini merupakan tindak lanjut langsung setelah Bapak Bupati Klungkung melakukan audiensi khusus ke kementerian terkait di pusat guna meminta bantuan anggaran darurat. (Sta-Kab).

kabar Lainnya