KLUNGKUNG, KABARBALI.ID – Mengembalikan taksu kesucian pura pasca-rampungnya proses rekonstruksi fisik merupakan sebuah kewajiban spiritual demi mewujudkan keharmonisan kosmik antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Atas dasar prinsip teologis tersebut, ribuan krama pengempon Pura Kawitan Pasek Gelgel di Griya Agung Pasek Gelgel, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, menggelar upacara sakral berskala besar pasca-pemugaran Gedong Kawitan pura setempat.
Rangkaian yadnya suci Upacara Mamungkah, Pangenteg Linggih, Padudusan Agung Menawa Ratna, Taur Balik Sumpah Wraspati Kalpa Agung ini dikategorikan ke dalam tingkatan utamaning utama.
Upacara panjang ini sejatinya telah digelar sejak tanggal 18 Maret 2026 yang diawali dengan ritual mapiuning, nuwasen karya, pakeling, nanceb, bumi sudha, hingga puncaknya pada Soma Wage Medangsia dan diakhiri ritual pengenteg karya pada Sukra Umanis Kliwon Dukut, akhir Juli 2026.

Prawartaka Karya sekaligus pengempon inti pura, Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Jaya Diaksa Daksa Dharma Griya Agung Pasek Gelgel, menjelaskan bahwa seluruh tahapan prosesi disiapkan secara matang lewat gotong royong yang melibatkan sedikitnya 50 dadia Pasek dari seluruh pelosok Bali.
Ribuan pengempon yang hadir tidak terbatas pada Pasek Gelgel saja, melainkan melebur bersama semeton Pasek lainnya seperti Pasek Gaduh, Pasek Pegatepan dan pasek lainnya tanpa ada sekat pembatas klen apa pun.

“Sebanyak 50 dadia ini mengikuti prosesi dan ritual yang sama secara kolektif. Ini adalah wujud yadnya utamaning utama yang tidak mungkin bisa dilaksanakan secara mandiri atau perorangan, mengingat dari kalkulasi biaya operasional saja bisa menghabiskan miliar rupiah,” ungkap Ida Pandita, Sabtu (11/7/2026).
Menariknya, meski menelan dana miliaran rupiah dengan estimasi persiapan fisik selama tiga bulan dan pelaksanaan upacara penuh selama lima bulan, seluruh biaya murni bersumber dari sistem tata kelola punia sukarela (tanpa pungutan iuran wajib).
Panglingsir Pura, Guru Mangku Gedong Kawitan, menambahkan bahwa antusiasme semeton untuk ngayah secara tulus ikhlas menjadi motor penggerak utama keberhasilan karya yang konsep pemugarannya sudah dicanangkan sejak lima tahun lalu ini.
Hal senada diungkapkan Ketua Panitia Karya, I Gede Agus Rai, S.Sn., M.Sn. Dirinya mengaku terharu menyaksikan soliditas yang terbangun antara unsur Sulinggih, Pemangku, Walaka, hingga barisan Dulang Mangap.
Apresiasi dan ucapan terima kasih juga dialamatkan kepada jajaran pemerintah daerah atas kehadiran langsung Bupati Klungkung, Wakil Bupati Bangli, serta pengurus PHDI yang turut menyaksikan jalannya upacara.

Di tengah khidmatnya pelaksanaan ritual, ada satu momen unik dan kultural saat puncak karya yang paling dinanti-nantikan oleh para pemedek, yakni prosesi mapedanan.
Salah satu pengempon asal Dadia Pasek Angkal (Desa Suana, Nusa Penida) yang juga merupakan seorang pengusaha jasa pariwisata sukses pemilik transportasi laut The Angkal, I Wayan Murka, melaksanakan aksi sosial-keagamaan dengan menghaturkan punia langsung kepada umat yang hadir.
Melalui bale pedanan, Wayan Murka bersama sang istri menebarkan ratusan lembar uang tunai pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 ke arah pemedek yang berada di pelataran jaba sisi pura. Aksi tebar punia ini langsung disambut dengan riuh sorak kegembiraan krama yang hadir di lokasi. Tidak hanya ditebar, sejumlah dana punia juga diserahkan secara langsung secara merata kepada semeton dadia yang tangkil, menambah kesan kebersamaan dan suka cita di area suci Griya Agung Pasek Gelgel Desa Aan. (Sta-Kab).