Investasi Rp3 Triliun, PSEL Bali Siap Pasok Listrik untuk 100 Ribu Rumah – Tuntas Oktober 2027

Pembangunan PSEL Bali resmi dimulai di Pedungan

DENPASAR, KABARBALI.ID – Pemerintah Provinsi Bali resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (8/7).

Proyek strategis bernilai investasi Rp3 triliun ini diproyeksikan menjadi solusi permanen dalam menuntaskan persoalan sampah sekaligus menjaga citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia.

Pembangunan PSEL Bali merupakan proyek pertama dari program percepatan PSEL nasional yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Konstruksi fasilitas ini ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun delapan bulan, atau sekitar Oktober 2027, dengan target operasi komersial pada Semester I Tahun 2028.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa keberadaan PSEL sangat mendesak mengingat Bali menjadi penopang utama pariwisata nasional dengan angka kunjungan mencapai lebih dari 16 juta wisatawan. Sektor ini menyumbang sekitar 65 persen terhadap perekonomian lokal.

“Semoga pembangunan ini selesai tepat waktu. Jika PSEL ini selesai, maka persoalan sampah di Bali dapat ditangani secara tuntas,” ujar Koster.

Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi Bali bersinergi dengan Pemerintah Kota Denpasar dan Pelindo yang menyediakan lahan seluas enam hektare. Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan optimistis proyek ini berjalan cepat karena adanya koordinasi yang kuat antar-sektor.

Secara teknis, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa PSEL Bali akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi sistem kontrol polusi udara berlapis standar emisi Eropa (EU IED). Teknologi ini mampu mereduksi emisi hingga 80 persen dibanding metode pembuangan terbuka di TPA.

Dengan kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari, PSEL Bali tidak hanya membersihkan lingkungan tetapi juga mampu menyuplai listrik untuk 100.000 rumah serta menyerap 1.200 tenaga kerja hijau selama masa konstruksi dan operasional. Menariknya, desain bangunan tetap mengadopsi arsitektur lokal yang selaras dengan filosofi Tri Hita Karana. (Rls-Kab).

kabar Lainnya