DENPASAR, KABARBALI.ID – Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat benteng pertahanan digitalnya seiring dengan transformasi total Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Langkah ini dipertegas dengan pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Audit Keamanan Sistem Elektronik yang digelar di Kantor Inspektorat Provinsi Bali, Selasa (21/4/2026).
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, yang membuka langsung kegiatan tersebut menyatakan bahwa kehadiran Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sangat krusial dalam mendesain sistem keamanan bagi penyelenggaraan digital government yang andal.
Dalam sambutannya, Dewa Indra mengakui bahwa digitalisasi bukan sekadar memindahkan data ke komputer, melainkan mengubah budaya kerja. Namun, di balik kemudahan sistem digital, terdapat risiko gangguan siber yang senantiasa mengintai.
“Implementasi digitalisasi bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesarnya adalah mentransformasikan pola kerja dari manual ke digital. Saat ini, seluruh sistem di Pemprov Bali telah terdigitalisasi. Namun, di sisi lain, muncul berbagai gangguan siber yang perlu diantisipasi secara serius,” ujar Dewa Indra.
Ia menambahkan, penguatan sistem keamanan ini dilakukan secara kolaboratif antara Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Bali bersama BSSN RI. Bimtek ini menjadi langkah strategis untuk memastikan infrastruktur digital yang telah dibangun tetap aman dari ancaman peretasan maupun kebocoran data.
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Daerah BSSN RI, Danang Jaya, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 132 aplikasi sistem elektronik yang menjadi aset Pemprov Bali. Ratusan aplikasi inilah yang perlu diaudit secara berkala untuk memetakan risiko.
Danang menjelaskan bahwa audit keamanan digital berfokus pada tiga aspek utama: aset, risiko, dan kendali. Audit dilakukan bukan untuk mencari celah kesalahan administratif, melainkan sebagai upaya perbaikan berkelanjutan.
“Audit dilakukan berdasarkan perencanaan yang matang terhadap aset yang dimiliki. Ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menemukan celah yang perlu diperbaiki secara berkelanjutan,” jelas Danang Jaya. (Rls-Kab).