DENPASAR, KABARBALI.ID – Masyarakat di sejumlah wilayah di Pulau Bali belakangan ini merasakan hembusan udara yang jauh lebih dingin dari biasanya, terutama pada waktu malam hingga pagi hari.
Merespons fenomena tahunan tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memprediksi bahwa kondisi suhu dingin ini masih akan berlangsung dan baru berakhir pada Agustus 2026 mendatang.
Pihak Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar menjelaskan bahwa fenomena penurunan suhu ini merupakan kondisi yang normal dan rutin terjadi secara periodik setiap tahun. Siklusnya selalu mengikuti pergerakan musim kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah Bali.
“Jadi untuk suhu dingin ini, periodenya memang terjadi pada awal musim kemarau hingga puncaknya, yaitu dari bulan Juni, Juli, hingga Agustus. Puncak musim kemarau itu diprediksi di bulan Agustus, sehingga suhu dingin ini akan terus terjadi dan baru berakhir setelah bulan Agustus,” terangnya.
Berdasarkan data resmi yang tercatat di stasiun pengamatan BBMKG, suhu udara minimum absolut di wilayah perkotaan saat ini terpantau menyentuh angka 19 derajat Celsius, yang terekam di Stasiun Negara, Jembrana. Namun, pihak BMKG menggarisbawahi bahwa untuk wilayah dataran tinggi atau pegunungan di Bali, suhunya dipastikan bisa jauh lebih rendah dari angka tersebut.
“Paling dingin yang tercatat resmi adalah 19 derajat Celsius di wilayah perkotaan Negara karena stasiun pencatatan kami berada di sana. Untuk wilayah dataran tinggi di Bali, kami belum memiliki stasiun pencatatan khusus. Jadi, kemungkinan besar suhu di dataran tinggi bisa lebih rendah lagi dari 19 derajat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, angka 19 derajat Celsius tersebut masih dinamis dan berpotensi mengalami penurunan tergantung kondisi lokal di lapangan. Jika dalam satu hari penuh langit bersih tanpa tutupan awan, maka pada malam harinya suhu udara berpeluang menjadi jauh lebih dingin.
Meskipun demikian, BMKG menegaskan kondisi ini belum masuk kategori ekstrem. Merujuk pada rekam data historis, stasiun Kahang-Kahang Klimatologi di Kabupaten Karangasem bahkan pernah mencatat suhu minimum absolut hingga 16 derajat Celsius. Suhu baru dikategorikan ekstrem jika memiliki selisih kurang lebih 3 derajat Celsius di bawah rata-rata suhu normalnya.
BBMKG Wilayah III Denpasar memaparkan ada tiga faktor sinoptik utama yang memicu terjadinya penurunan suhu udara di Pulau Dewata secara signifikan belakangan ini:
Minimnya Tutupan Awan (Clear Sky): Pada musim kemarau, volume awan di langit Bali sangat sedikit sehingga langit terlihat biru bersih. Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima bumi pada siang hari langsung dipantulkan kembali ke atmosfer secara utuh tanpa ada penghalang. Akibatnya, pada malam hari tidak ada panas yang tersimpan, membuat suhu udara turun drastis.
Gerak Semu Tahunan Matahari: Saat ini posisi matahari sedang berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sedangkan Pulau Bali terletak di Belahan Bumi Selatan (BBS). Posisi matahari yang menjauh ke arah utara ini secara otomatis menurunkan intensitas panas dan menyebabkan penurunan suhu di wilayah selatan khatulistiwa.
Aktivitas Angin Monsun Australia: Saat ini Angin Muson Timur atau Monsun Australia sedang aktif bergerak. Pergerakan angin ini membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering dari benua Australia melintasi wilayah Indonesia, termasuk Pulau Bali.
Berdasarkan pola harian, penurunan suhu udara ini biasanya mulai terasa tajam pada dini hari sekitar pukul 01.00 dan 02.00 WITA, dan mencapai puncaknya pada waktu subuh antara pukul 05.00 hingga 06.00 WITA.
Menyikapi fenomena ini, BMKG mengeluarkan imbauan khusus kepada masyarakat Bali, terutama para pelaku industri pariwisata dan para nelayan yang sering beraktivitas di luar ruangan pada malam hari. Warga diharapkan tetap menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, mengonsumsi vitamin, menghindari aktivitas berlebih yang memicu kelelahan, serta menggunakan pakaian hangat atau jaket tebal saat beraktivitas di malam dan dini hari. (Kri-Kab).