BANGLI, KABARBALI.ID – Fenomena alam semburan belerang yang rutin melanda kawasan Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, kembali menjadi ancaman serius bagi para pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA). Insiden kematian massal ikan siap panen tersebut tak jarang memicu kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Menanggapi realita tahunan ini, Anggota DPRD Kabupaten Bangli, I Nyoman Muliawan, meminta para pembudidaya ikan di Danau Batur untuk mengubah pola tanam dan siklus pemeliharaan ikan, yakni cukup melakukan budidaya sekali dalam setahun.
Politisi Partai NasDem asal Desa Songan, Kintamani ini menjelaskan bahwa fenomena semburan belerang sulit diprediksi lokasi pastinya, namun siklus waktunya dapat ditengarai secara periodik.
“Semburan belerang di Danau Batur merupakan fenomena alam yang rutin terjadi setiap tahun. Kalau kerugian yang dialami pembudidaya ikan yang terdampak bisa mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Nyoman Muliawan, Minggu (2/8/2026).
Muliawan memaparkan, siklus semburan belerang biasanya terjadi pada rentang bulan Juni hingga September. Periode ini seharusnya dijadikan lampu kuning dan pengingat bagi para peternak KJA di kawasan Kintamani.
“Proses pembudidayaan ikan dari menebar benih di KJA hingga siap panen butuh waktu sekitar 6 sampai 7 bulan. Kalau dari pengamatan kita, budidaya dilakukan dua kali setahun, tatkala terjadi semburan belerang kerugian sudah ada di depan mata,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi yang paling realistis, ia menyarankan agar penebaran benih ikan dilakukan tepat setelah periode fenomena belerang mereda.
“Sebaiknya penebaran benih dilakukan setelah semburan belerang mereda, yakni di kisaran bulan Oktober. Setelah ikan dipanen di bulan Mei, biarkan KJA kosong sambil menunggu kemungkinan terjadinya semburan belerang di pertengahan tahun,” urainya.
Disinggung mengenai wacana penjaminan asuransi bagi pembudidaya ikan Danau Batur untuk meminimalisir risiko keuangan, Muliawan menilai ide tersebut positif namun membutuhkan proses sosialisasi yang panjang.
“Ide asuransi itu bagus, tapi tentu harus melalui sosialisasi. Paling relevan yang bisa dilakukan saat ini guna meminimalisir kerugian adalah membatasi budidaya ikan menjadi setahun sekali,” pungkasnya. (Sam-Kab).