BADUNG, KABARBALI.ID – Gubernur Bali, Wayan Koster, membacakan sambutan tertulis Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, pada pembukaan forum internasional The 3rd World Civilizations Harmony Forum. Agenda akbar ini diselenggarakan di Hotel Renaissance Bali Uluwatu, Kabupaten Badung, Bali, Senin (29/6/2026).
Pertemuan tingkat dunia ini mempertemukan para tokoh lintas negara, pemimpin agama, budayawan, serta akademisi global untuk merumuskan masa depan peradaban dunia yang damai, adil, seimbang, dan berkelanjutan. Forum internasional tersebut turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) RI periode 2019–2024, Mahfud MD.
Ketua Yayasan Prajna Harmonis, Kasino, mengungkapkan bahwa di tengah konflik global yang terjadi saat ini, seluruh delegasi tetap memilih berkumpul di Bali untuk menyumbangkan suara hati nurani sebagai dasar martabat manusia tanpa memandang perbedaan kebangsaan, suku, budaya, maupun ideologi.
Kasino menambahkan, tema forum tahun ini yakni “Harmony in Diversity, Human Fraternity” sangat selaras dengan nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, konsep Vasudhaiva Kutumbakam (Hindu), Ukhuwah Insaniyah (Islam), Tianxia Yijia (Konfusianisme), serta nilai persaudaraan universal dalam tradisi Buddha dan Kristen.
Dalam naskah pidato yang dibacakan oleh Gubernur Wayan Koster, Megawati Soekarnoputri menyoroti kondisi geopolitik dunia yang kian diwarnai oleh persaingan hegemoni, konflik bersenjata, dominasi ekonomi, serta ketidakadilan teknologi dan informasi yang mengancam nilai kemanusiaan.
Megawati mengingatkan, dunia yang setara dan bermartabat tidak boleh dipimpin oleh “hukum rimba”, melainkan harus dipandu oleh “hukum hati nurani”. Berangkat dari pengalaman Indonesia yang dipersatukan oleh keberagaman, Megawati menyodorkan lima agenda strategis bagi keberlanjutan peradaban dunia:
1. Membangun Regulasi Global yang Berkeadilan: Menciptakan tata hukum internasional yang setara bagi seluruh bangsa tanpa adanya standardisasi ganda.
2. Memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB): Mengembalikan marwah dan efektivitas PBB sebagai penengah konflik internasional yang imparsial.
3. Mereformasi Sistem Keuangan Global: Mengubah struktur ekonomi internasional agar lebih inklusif dan tidak mendominasi negara berkembang.
4. Mengembangkan Kearifan Lokal: Menjadikan nilai budaya tradisional lokal sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.
5. Memperkuat Sistem Kebudayaan: Mengoptimalkan investasi pada sektor pendidikan, kesehatan, serta pelestarian identitas budaya setiap bangsa.
Lebih lanjut, dalam sambutan yang dibacakan Koster, Megawati menegaskan bahwa pemilihan Bali sebagai lokasi forum sangatlah tepat. Pulau Dewata merupakan cerminan nyata dari harmoni antara alam, spiritualitas, dan kebudayaan melalui filosofi hidup Tri Hita Karana (keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta).
Menutup pidatonya, Megawati mengutip pesan monumental Proklamator RI, Ir. Soekarno, mengenai keseimbangan nasionalisme dan tata pergaulan antarbangsa.
“Internasionalisme tidak dapat tumbuh subur kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Kecintaan terhadap tanah air harus berjalan seiring dengan tanggung jawab membangun dunia yang lebih baik, berlandaskan kesetaraan, kemanusiaan, keadilan, dan kemakmuran bersama,” kutip Koster menyuarakan pesan Megawati.
Melalui forum ini, Megawati mengajak seluruh generasi muda di dunia untuk bergerak aktif menjadi pembangun jembatan persaudaraan global (bridge builder), dan bukan sebaliknya menjadi pembangun tembok pemisah peradaban. (Rls-Kab).