DENPASAR, KABARBALI.ID – Ribuan pasang mata penonton dan suporter dibuat terhipnotis oleh pementasan magis Duta Kabupaten Klungkung. Tampil dalam ajang Wimbakara (Lomba) Tari Barong Ket serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, kontingen Klungkung sukses memukau dan mengundang gemuruh tepuk tangan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar, Kamis (25/6/2026) malam. Penampilan impresif ini sekaligus meneguhkan posisi kuat Klungkung sebagai Juara Bertahan di ajang bergengsi tersebut.
Pementasan ini disaksikan langsung oleh Bupati Klungkung I Made Satria, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Eva Satria, serta Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra.

Kehadiran jajaran pimpinan tertinggi daerah ini menjadi bentuk dukungan moral serta apresiasi luar biasa bagi para seniman cilik dan remaja dari Sanggar Sangku Mas, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan, yang menjadi motor penggerak kontingen Bumi Serombotan.
“Kami sangat bangga dan kagum atas dedikasi serta totalitas para seniman Sanggar Sangku Mas Getakan. Pementasan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan media pelestarian nilai tradisi dan spiritualitas yang menjadi identitas mendalam masyarakat Bali,” ujar Bupati Klungkung, I Made Satria, di sela-sela acara.
Berbeda dengan penataan umum, Duta Kabupaten Klungkung tahun ini membawakan konsep teologis-spiritual tinggi bertajuk “Tapuk Apunggul”. Konsep ini berakar dari teologi Hindu Bali yang menempatkan Barong Ket sebagai perwujudan Banaspati Raja (pelindung alam dan penolak bala) serta makhluk mitologi Kirthimukha dalam sastra Siwa Purana Tatwa.
Secara rinci, rahasia di balik filosofi garapan “Tapuk Apunggul” Klungkung meliputi:
Pemaknaan Istilah: Kata “Tapuk” merujuk pada atapukan atau tapel (wajah kepala tanpa badan layaknya penjaga gerbang suci Kirthimukha). Sementara “Apunggul” berasal dari kata punggul yang berarti potong.
Prosesi Sakral Kayu Pule: Konsep ini merepresentasikan prosesi munggul atau memotong bagian tertentu dari pohon pule secara sakral. Potongan kayu inilah yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah punggalan (tapel barong).
Esensi Tarian: Barong Ket Tapuk Apunggul tidak sekadar nangiang (membangkitkan) sosok fisik barong, melainkan memuliakan asal-usul kayu tempat taksu itu dibentuk. Saat mesolah (menari), barong ini wajib melalui ritme spiritual “nangkilang” atau “nuwur taksuning swari maring sor ing pule“.
Bupati I Made Satria menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Klungkung berkomitmen penuh untuk mengawal ekosistem kesenian tradisional di tingkat akar rumput, seperti yang ditunjukkan oleh seniman Desa Getakan. Dukungan regulasi dan anggaran akan terus dialirkan guna memastikan warisan leluhur ini tetap hidup subur dan dihargai di tingkat nasional maupun internasional.
Kombinasi antara kekuatan teknik menari bapang barong yang lincah, penjiwaan mistis yang kuat, serta harmonisasi tabuh pengiring yang dinamis dari Sanggar Sangku Mas terbukti sukses mempertahankan marwah Klungkung sebagai salah satu poros utama pelestarian seni Barong Ket di Bali. (Sta-Kab).