PKB 2026: Bawakan Tabuh “Titi Gonggang”, Gong Kebyar Anak-anak Gianyar Memukau di Ardha Candra

Duta Gong Kebyar Anak-anak Gianyar (Banjar Kebon Bona) tampil memukau di Ardha Candra PKB 2026 lewat Tabuh Titi Gonggang dan Dolanan Masemal Semalan.

DENPASAR,KABARBALI.ID – Di tengah semarak suasana dan riuhnya tabuh pepanggulan, penampilan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Duta Kabupaten Gianyar berhasil mencuri perhatian ribuan pecinta seni. Para seniman cilik ini sukses memadati dan memukau penonton di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (26/6/2026) malam.

Mengenakan balutan busana bernuansa hitam dengan sentuhan estetika khas Blahbatuh, para penabuh tampil penuh percaya diri ditingkahi tarian dinamis puluhan seniman cilik Gianyar. Setiap hentakan panggul berpadu harmonis dengan gerak tubuh yang luwes, memperlihatkan kekompakan, energi, dan penguasaan panggung yang matang.

Koordinator GKA Duta Gianyar, I Gusti Nyoman Oka Arsila, mengungkapkan bahwa sekaa gong anak-anak ini berbasis di Banjar Kebon, Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh. Kelompok ini sengaja dipersiapkan secara matang melalui proses pembinaan dan latihan disiplin yang intensif selama kurang lebih enam bulan sebelum melenggang ke panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026.

Dari Filosofi Kematian hingga Kritik Sosial Gadget

Dalam pementasan bergengsi skala penayangan provinsi tersebut, Duta Kabupaten Gianyar menyajikan tiga materi garapan seni yang sarat akan pesan tuntunan dan tontonan menarik:

  • Tabuh Pembuka “Titi Gonggang”: Sebuah karya pepanggulan yang mengangkat konsep teologi Hindu di Bali mengenai lintasan perjalanan Atman setelah kematian. “Titi” berarti jembatan dan “Gonggang” melambangkan ujian keseimbangan. Karya ini dikontekstualisasikan agar anak-anak modern mampu memisahkan ego demi menjauhkan diri dari kebiasaan buruk yang menghambat masa depan.

  • Tari Puspa Bala Agung: Sebuah tari penyambutan dinamis yang dibawakan oleh penari putra dan putri. Tarian ini bermakna sebagai simbol persembahan bunga jiwa untuk menyambut Atman suci yang kembali hadir di tengah keluarga melalui upacara Atma Wedana (Penyucian Roh).

  • Dolanan “Masemal Semalan”: Sebuah mahakarya penutup yang menghidupkan kembali permainan tradisional anak-anak secara jenaka dan lincah. Garapan ini berangkat dari kisah nyata di Banjar Kebon, Desa Bona, di mana para tetua gelisah melihat anak-anak menghabiskan waktu bermain telepon genggam (gadget) di balai banjar. Anak-anak tersebut kemudian dirangkul ke dalam “Sekehe Semal” untuk belajar megambel, menganyam lontar, hingga menari Kecak dan Sanghyang.

Bukti Regenerasi Seni Gianyar Berjalan Baik

Kesuksesan pementasan ini menuai pujian luar biasa dari jajaran pemerintah daerah. Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, yang memantau langsung jalannya pementasan mengaku bangga sekaligus terpukau menyaksikan ketahanan mental para seniman cilik tersebut.

“Penampilan mereka sungguh luar biasa. Anak-anak ini memiliki kemauan belajar yang tinggi, kemampuan yang sangat baik, serta mental yang kuat untuk tampil di panggung sebesar PKB. Ini menjadi bukti bahwa regenerasi seni budaya di Gianyar berjalan dengan baik dan harus terus mendapat dukungan dari semua pihak,” ungkap Pasek Lanang Sadia.

Rasa syukur dan terima kasih mendalam juga diutarakan oleh Gusti Nyoman Oka Arsila selaku koordinator. Pihaknya mengapresiasi dukungan moral dan materiil dari Kelihan Banjar, Perbekel Desa Bona, para pembina tabuh dan tari, serta seluruh krama Gianyar yang setia mengawal proses kreativitas anak-anak dari awal latihan hingga berhasil tampil maksimal di panggung utama Ardha Candra. (Tut-Kab).

kabar Lainnya