Kalender Bali Sabtu 12 September 2026 : Baik Bepergian ke Utara, Pantang Gelar Pernikahan

KABARBALI.ID – Umat Hindu di Bali senantiasa menggunakan perhitungan Ala-Ayuning Dewasa atau padewasan dalam menentukan hari baik untuk melangsungkan berbagai kegiatan, mulai dari pelaksanaan keagamaan, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan perhitungan Kalender Bali, pada Sabtu, 12 September 2026 (Saniscara), terdapat sejumlah wewaran dan padewasan yang memengaruhi sifat hari tersebut.

Secara umum, hari ini memiliki nilai Pararasan: Laku Api, Pancasuda: Satria Wibawa, Ekajalaresi: Buat Suka, serta Pratiti: Jati.

Hari Baik untuk Manusa Yadnya dan Bepergian ke Utara

Pada 12 September 2026 terdapat unsur Catur Laba, yang memberikan keberkahan dan nilai positif untuk beberapa aktivitas utama.

Hari ini dinilai sangat baik bagi umat yang berniat melakukan perjalanan jauh (melancaran), khususnya ke arah utara. Selain itu, Catur Laba juga merupakan hari baik untuk melaksanakan berbagai prosesi upacara Manusa Yadnya (seperti potong gigi, mewetonan, dll.) serta upacara Pitra Yadnya.

Aktivitas pertanian juga mendapat naungan baik melalui Pepedan, yang dinilai tepat untuk memulai pembukaan lahan pertanian baru.

Di samping itu, bagi warga yang ingin memulai usaha baru dengan tekad bulat, keberadaan Kala Cakra memberikan vibrasi positif untuk memulai berbagai jenis pekerjaan.

Pantangan Pawiwahan dan Kegiatan Peternakan

Kendati demikian, masyarakat Bali diimbau untuk memperhatikan beberapa pantangan (alangan) pada hari ini.

Dua penanggalan penting, yakni Kala Tampak dan Rangda Tiga, secara tegas menyebutkan bahwa hari ini tidak baik untuk melaksanakan upacara pawiwahan (pernikahan). Melangsungkan pernikahan pada hari Rangda Tiga dipercaya kurang baik bagi kelangsungan rumah tangga.

Selain itu, keberadaan Kala Rumpuh mengindikasikan hari ini tidak disarankan untuk pindah rumah maupun mulai memelihara hewan ternak seperti ayam, itik, sapi, kerbau, kambing, dan babi.

Adapun unsur Titibuwuk memuat makna baik untuk proses pengobatan atau menghilangkan penyakit akibat gangguan spritual/guna-guna. Namun, Titibuwuk tidak baik untuk membuat peralatan dari besi, membuat tangga (banggul), maupun mengawali pekerjaan yang sangat krusial.

Perlu diperhatikan pula keberadaan Geheng Manyinget, yang mengingatkan agar tetap waspada terhadap potensi gangguan jika menggelar pekerjaan penting atau upacara besar.

kabar Lainnya