GIANYAR, KABARBALI.ID – Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) bergerak cepat menekan angka kekerasan pada anak. Pemkab menggelar rangkaian sosialisasi maraton selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Juni 2026, guna mendongkrak kepedulian lingkungan keluarga dan masyarakat terhadap hak anak.
Kegiatan yang berpusat di Ruang Rapat MDA Kabupaten Gianyar ini membedah tiga fokus utama sekaligus, yakni pencegahan kekerasan anak dengan perilaku sosial menyimpang, pencegahan pekerja anak, hingga penanganan eksploitasi anak.
Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Gianyar, Ni Ketut Widiastuti, SE., MM., menegaskan bahwa perilaku sosial menyimpang saat ini menjadi tantangan nyata yang merambah lingkungan keluarga, sekolah, hingga ruang publik. Tindakan yang melanggar norma tersebut dinilai memicu dampak domino yang negatif bagi tumbuh kembang anak dan lingkungan sekitarnya.
“Melalui acara hari ini, kita akan bersama-sama memahami faktor penyebab perilaku sosial menyimpang, dampak yang ditimbulkan, serta upaya-upaya pencegahan dan penanganannya,” ujar Widiastuti saat membuka acara, Rabu (3/6/2026).
Langkah agresif Pemkab Gianyar ini bukan tanpa alasan. Widiastuti membeberkan, Kabupaten Gianyar sebetulnya telah mengantongi predikat ‘Nindya’ sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) pada tahun 2024 lalu. Namun, pihaknya emoh berpuas diri dan memasang target tinggi untuk naik kelas ke predikat KLA ‘Utama’.
Secara regulasi, komitmen Gianyar diklaim sudah sangat kokoh lewat Perda Nomor 9 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan KLA serta Perda Nomor 4 Tahun 2014 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan.
“Kedua perda tersebut merupakan bentuk komitmen bersama yang didukung berbagai pihak. Mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sekolah-sekolah hingga dunia usaha yang telah berupaya menjadi lingkungan yang ramah anak,” urainya jelas.
Kendati aturan hukum sudah matang, peran aktif masyarakat di tingkat bawah dinilai menjadi penentu utama. Widiastuti mendesak agar ilmu yang didapat dari sosialisasi ini langsung ditularkan ke lingkungan rumah dan banjar-banjar. Pihaknya bermimpi mentransformasi desa-desa di Gianyar menjadi ruang tumbuh yang aman, peka, dan mampu membentengi anak-anak dari praktik eksploitasi.
“Saya mengajak kita semua untuk menggerakkan masyarakat di lingkungan masing-masing agar peka, peduli, dan aktif mencegah terjadinya praktik-praktik yang merugikan anak-anak kita, karena anak merupakan generasi penerus bangsa,” pungkas Widiastuti. (Tut/Kab).