Kreatif Olah Pangan Pesisir, Langkah Tim Unud Tekan Angka Stunting di Desa Antiga Kelod

KARANGASEM, KABARBALI.ID – Upaya penanganan dan pencegahan stunting di Bali tidak hanya membutuhkan intervensi medis, melainkan juga menuntut keterlibatan aktif keluarga serta masyarakat dalam memastikan pemenuhan gizi yang optimal.

Ketua Tim Program Udayana Mengabdi (PUM) Unud, Prof. Dr. Dra. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, M.S  menjelaskan, menjawab tantangan tersebut, Universitas Udayana (Unud) menyelenggarakan  Tahun 2026 di Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, yang digelar pada 9 Agustus 2026 lalu.

“Melalui program bertajuk “Penguatan Peran Keluarga dan Posyandu dalam Pencegahan Stunting Berbasis Edukasi Gizi dan Praktik Pangan Lokal di Desa Antiga Kelod”, tim pengabdian Unud mendorong peningkatan pengetahuan warga mengenai stunting, pemenuhan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), penguatan kapasitas kader Posyandu, hingga pemanfaatan potensi pangan lokal,” paparnya Senin (14/9/2026).

Disebutkan, kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengusul dari Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unud, yang dipimpin oleh Prof. Dr. Dra. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, M.S., bersama Prof. Dr. Ni Nyoman Yuliarmi, S.E., M.P., Dr. Surya Dewi Rustariyuni, S.E., M.Si., Gede Crisna Wijaya, S.E., M.Si., Diah Pradnyadewi T., S.E., M.Si., dan Dewa Jati Primajana, S.E., M.Si., serta melibatkan sejuta elemen mahasiswa.

Tim Pengabdian PUM Universitas Udayana bersama kader Posyandu dan ibu hamil/balita saat sesi praktik pengolahan pangan lokal pencegah stunting di Desa Antiga Kelod, Karangasem. (Foto: Dok. Tim PUM Unud / kabarbali.id)

Manfaatkan Potensi Ikan Laut Pesisir 

“Sebagai wilayah pesisir, Desa Antiga Kelod  memiliki kekayaan potensi pangan lokal seperti ikan laut yang melimpah,  sehingga  pemenuhan gizi anak dan balita tidak harus selalu mengandalkan bahan pangan mahal,” jelas Prof Marhaeni.

Dalam kegiatan ini, para peserta diajak langsung mengikuti demonstrasi dan praktik pengolahan pangan lokal agar bahan makanan di sekitar rumah dapat diolah menjadi hidangan bergizi, menarik, serta disukai balita.

“Pencegahan stunting perlu dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan komunitas. Karena itu, kami tidak hanya memberikan edukasi mengenai stunting, tetapi juga mendorong penguatan Posyandu. Dan pemanfaatan pangan lokal agar masyarakat memiliki pengetahuan sekaligus kemampuan untuk menerapkannya,” imbuhnya.

Peserta Percaya Diri Olah Menu Balita

Program pemberdayaan yang berlangsung partisipatif ini mendapat sambutan amat positif dari warga setempat. Evaluasi kegiatan mencatat partisipasi 61 responden yang terdiri atas 26 kader Posyandu, 26 ibu balita, 7 ibu hamil, dan 2 peserta lainnya.

“Dari evaluasi menunjukkan 93 persen peserta paham pemanfaatan pangan lokal, dan 95 persen peserta  percaya diri untuk mengolah pangan lokal menjadi variasi menu harian balita,” ungkapnya.

Seluruh kader Posyandu yang hadir  siap menerapkan dan pendampingan rutin kepada ibu-ibu hamil dan balita di wilayah Posyandu masing-masing.

“Melalui sinergi antara akademisi Unud, kader kesehatan, dan pemerintah desa, penanganan stunting di Desa Antiga Kelod diharapkan berjalan berkelanjutan demi mencetak generasi masa depan Bali yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” pungkasnya. (Kri/Kab).

kabar Lainnya