KABARBALI.ID – Desa secara mendasar dipahami sebagai wilayah pemukiman dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, memiliki hubungan sosial yang erat, serta pola kehidupan yang masih lekat dengan alam dan nilai-nilai tradisional.
Namun, di tengah tantangan modernisasi dan isu limbah global, beberapa desa di belahan dunia justru berhasil tampil memukau sebagai pelopor kelestarian lingkungan dan dinobatkan sebagai desa terbersih.
Kunci utama dari predikat tersebut ternyata tidak instan, melainkan lahir dari kesadaran kolektif, inovasi tata kota, hingga ketegasan hukum adat setempat.
Setidaknya, ada tiga nama desa di dunia yang menjadi kiblat kebersihan internasional berkat konsistensi masyarakatnya dalam menjaga lingkungan, mengutip travelokadotcom ;
Terletak di wilayah perbukitan East Khasi Hills, Mawlynnong sering kali dijuluki sebagai “God’s Own Garden” atau Kebun Milik Tuhan. Di desa ini, kebersihan bukan lagi sekadar instruksi pemerintah, melainkan sudah mendarah daging menjadi kebudayaan harian masyarakat.
Rahasia Kebersihan: Setiap warga—mulai dari anak-anak hingga lansia—memiliki jadwal rutin harian untuk menyapu jalanan desa. Mereka juga secara swadaya menyediakan tempat sampah organik berbahan bambu tradisional di setiap sudut jalan guna memastikan tidak ada selembar sampah pun yang telantar.
Mengusung konsep yang berbeda, Desa Giethoorn di Belanda mengunci predikat bersih melalui pembatasan infrastruktur transportasi modern. Sering dijuluki sebagai “Venesia dari Utara”, desa ini sama sekali tidak memiliki jalan raya untuk kendaraan bermotor.
Rahasia Kebersihan: Akses utama di dalam desa sepenuhnya mengandalkan kanal-kanal air yang jernih dan jembatan kayu sepeda. Dengan melarang masuknya mobil dan sepeda motor, air di kawasan Giethoorn tetap bebas limbah kimiawi dan udaranya terbebas dari polusi gas emisi.
Kembali ke tanah air, Desa Adat Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali, secara konsisten terus diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu desa terbersih. Kunci utama keberhasilan Penglipuran terletak pada kekuatan komitmen masyarakat dalam mematuhi hukum adat lokal (awig-awig).
Rahasia Kebersihan: Kendaraan bermotor dilarang keras memasuki areal utama desa. Selain itu, tata ruang pemukiman diatur secara simetris berbasis konsep Tri Hita Karana (keharmonisan dengan Tuhan, sesama, dan alam). Komitmen ini diperkuat dengan pelestarian kawasan hijau berupa hutan bambu seluas puluhan hektar yang berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus paru-paru desa. (Kab)