Penanggal dan Panglong, Dasar Perhitungan Hari Baik dalam Kalender Bali

Siklus Bulan dalam Tradisi Bali: Makna Penanggal dan Panglong

KABARBALI.ID — Dalam sistem kalender Hindu Bali, Penanggal dan Panglong merupakan dua siklus waktu penting yang digunakan untuk membaca fase bulan sekaligus makna filosofis kehidupan. Keduanya menjadi dasar dalam menentukan Dewasa Ayu atau hari baik untuk berbagai aktivitas adat dan keagamaan, termasuk pernikahan dan upacara yadnya.

Penanggal dan Panglong masing-masing berlangsung 15 hari, membentuk satu bulan atau sasih, mengikuti pergerakan bulan dari gelap menuju terang dan kembali meredup.

“Penanggal dan Panglong bukan sekadar hitungan hari, tetapi simbol perjalanan hidup manusia dari pertumbuhan menuju perenungan,” demikian pemahaman dalam tradisi wariga Bali.

Penanggal (Sukla Paksa): Fase Pertumbuhan

Penanggal, atau dikenal sebagai Sukla Paksa, merupakan fase bulan yang sedang tumbuh.

Dalam praktiknya, hari-hari Penanggal sering dianggap lebih positif dan progresif, sehingga kerap dipilih untuk memulai kegiatan penting.

Panglong (Krsna Paksa): Fase Perenungan

Sebaliknya, Panglong atau Krsna Paksa adalah fase bulan yang mulai meredup.

Hari-hari Panglong umumnya dimanfaatkan untuk refleksi batin, pembersihan diri, dan kegiatan yang bersifat spiritual.

Fungsi Penanggal dan Panglong dalam Tradisi Bali

Dalam kehidupan masyarakat Bali, Penanggal dan Panglong memiliki fungsi utama sebagai berikut:

Penentuan Hari Baik (Dewasa Ayu)

Penanggal dan Panglong digunakan bersama unsur kalender Bali lainnya seperti Wuku dan Wewaran untuk menentukan:

Simbol Perjalanan Kehidupan

Siklus Penanggal–Panglong mencerminkan ritme alam dan kehidupan manusia yang terus berputar antara terang dan gelap, naik dan turun.

“Filosofi ini mengajarkan keseimbangan, bahwa setiap masa terang akan diikuti perenungan, dan setiap kegelapan akan menuju cahaya kembali.” (Kab).

kabar Lainnya