Kalender Hari Raya Galungan – Kuningan 2026

Selamat hari raya Galungan

KABARBALI.ID– Hari Raya Galungan merupakan salah satu momentum suci paling agung bagi umat Hindu di Bali untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). Namun, belum banyak yang menyadari bahwa perayaan besar ini sejatinya merupakan sebuah siklus ritual panjang yang berjalan berkesinambungan selama 25 hari berturut-turut.

Secara filosofis, linimasa perayaan Galungan dirancang dengan sangat presisi. Rangkaian ini dimulai dari harmonisasi terhadap alam, prosesi penyucian spiritual dan lingkungan, pengekangan hawa nafsu, hingga akhirnya ditutup dengan puncak persembahyangan dan ucapan syukur atas kemenangan batiniah.

Berikut adalah kronologi dan urutan lengkap 9 tahapan penting dalam perayaan Hari Raya Galungan berdasarkan tradisi serta sastra agama Hindu di Bali untuk tahun 2026 :

1. Tumpek Wariga (25 Hari Sebelum Galungan)

Siklus ini dibuka pada hari Saniscara Kliwon wuku Wariga. Pada hari ini, umat Hindu memuja Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Kemakmuran (Dewa Tumpek). Ritual diwujudkan lewat persembahan sesajen kepada tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk syukur sekaligus komitmen menjaga kelestarian alam semesta yang menjadi sumber kehidupan.

2. Sugihan Jawa (6 Hari Sebelum Galungan) – Kamis (11-06-2026)

Jatuh pada hari Wraspati Wage wuku Sungsang. Prosesi ini berfokus pada penyucian Bhuana Agung atau makrokosmos (alam semesta). Implementasinya ditandai dengan pembersihan fisik tempat ibadah, pelinggih, peralatan upacara, hingga lingkungan tempat tinggal dari energi negatif.

3. Sugihan Bali (5 Hari Sebelum Galungan) – Jumat (12-06-2026)

Dilaksanakan sehari setelah Sugihan Jawa, tepatnya pada Sukra Kliwon wuku Sungsang. Jika Sugihan Jawa membersihkan alam, maka Sugihan Bali berfokus pada penyucian Bhuana Alit (diri sendiri), baik secara jasmani maupun rohani melalui doa dan prosesi penglukatan.

4. Hari Penyekeban (3 Hari Sebelum Galungan) – Minggu (14-06-2026 )

Tiba pada hari Redite Paing wuku Dungulan. Berakar dari kata sekeb yang berarti mengeram atau menutup, hari ini disimbolkan sebagai momen krusial untuk mengendalikan diri dan mengekang sifat-sifat negatif. Secara tradisi, krama Bali juga mulai memeram (nyekeb) buah pisang agar matang tepat waktu saat puncak raya.

5. Hari Penyajaan (2 Hari Sebelum Galungan) Senin (15-06-2026)

Dilaksanakan pada hari Soma Pon wuku Dungulan. Kata “nyaja” berarti memantapkan mental untuk menyambut hari suci. Pada tahap ini, krama perempuan mulai sibuk menyiapkan sarana upakara dan membuat jajan tradisional khas Galungan, seperti jaje uli, cerorot, hingga tape.

6. Hari Penampahan (1 Hari Sebelum Galungan) – Selasa ( 16-06-2026)

Jatuh pada Selasa Wage wuku Dungulan. Makna utamanya adalah nampah atau menyembelih hewan kurban (umumnya babi), yang secara filosofis melambangkan upaya membunuh sifat kebinatangan (rakus dan buas) di dalam diri manusia. Di hari ini pula, penjor-penjor megah mulai didirikan di depan pintu gerbang rumah.

7. Puncak Hari Raya Galungan – Rabu (17-06-2026)

Inilah hari kemenangan yang jatuh pada Buda Kliwon wuku Dungulan. Umat Hindu mengenakan pakaian adat kebesaran untuk melakukan persembahyangan khusyuk di Merajan keluarga, Pura Kahyangan Tiga, hingga Kahyangan Jagat guna menghaturkan puji syukur atas tegaknya kebaikan di bumi.

8. Manis Galungan (1 Hari Setelah Galungan) – Kamis (18-06-2026)

Dirayakan pada Kamis Umanis wuku Dungulan. Setelah merampungkan urusan niskala, hari ini digunakan untuk urusan sekala (sosial), di mana warga memanfaatkan momen ini untuk mengunjungi sanak saudara (dharma shanti), bermaaf-maafan, serta berekreasi bersama keluarga.

9. Rangkaian Kuningan hingga Pegat Wakan (Penutup) – Sabtu (27-06-2026).

Energi kemenangan Galungan terus dirawat hingga 10 hari ke depan, menuju puncaknya pada Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Seluruh rangkaian suci ini kemudian dinyatakan berakhir secara resmi pada hari Pegat Wakan, tepat 35 hari setelah puncak Galungan.

Melalui pemahaman urutan tata upakara yang runtut ini, umat Hindu diharapkan tidak sekadar terjebak pada kemeriahan fisik semata, melainkan mampu meresapi transformasi spiritual yang mendalam dari setiap tahapan waktu yang dilewati. (Pur-Kab).

kabar Lainnya