Cegah Malnutrisi Pengungsi, Poltekkes Denpasar Rancang Menu Sehat Khusus Bencana

osen sekaligus peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar, Anak Agung Nanak Antarini, SST., MP

DENPASAR, KABARBALI.ID – Krisis pangan dan minimnya nutrisi yang kerap melanda posko pengungsian saat terjadi bencana memicu lahirnya inovasi baru di Bali. Poltekkes Kemenkes Denpasar resmi mengembangkan inovasi menu sehat khusus bencana yang dirancang spesifik berdasarkan kebutuhan gizi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Langkah strategis ini lahir dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Poltekkes Kemenkes Denpasar, BPBD Provinsi Bali, dan LLDikti Wilayah VIII, dengan dukungan penuh dari Program SIAP SIAGA. Inovasi ini hadir untuk memutus ketergantungan pengungsi terhadap bantuan pangan darurat yang selama ini didominasi makanan tinggi kalori dan garam, namun minim nutrisi yang berisiko memperburuk penyakit diabetes serta hipertensi.

Dosen sekaligus peneliti Poltekkes Kemenkes Denpasar, Anak Agung Nanak Antarini, SST., MP., menegaskan bahwa pemenuhan gizi darurat harus menyentuh semua kalangan tanpa terkecuali. Penerapan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) menjadi fondasi utama dalam penyusunan menu ini.

“Menu gizi bencana ini bertujuan membantu masyarakat terdampak bencana mempertahankan status gizi, mencegah kekurangan gizi, serta mengurangi risiko kesakitan dan kematian. Karena kebutuhan gizi setiap kelompok usia berbeda, maka menu yang kami susun juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok,” ujar Nanak Antarini dalam acara Dialog Multipihak di Denpasar, Rabu (15/7/2026).

Langkah inovatif ini mendapat sambutan positif dari Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali, Ida Bagus Gede Widnyana. Menurutnya, pemenuhan logistik pangan saat bencana sudah saatnya naik kelas dengan mementingkan kualitas gizi para penyintas.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi penelitian ini karena dapat membantu meningkatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya pangan, saat bencana terjadi. Tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas gizinya. Produk ini berpotensi menjadi salah satu pilihan logistik yang dapat kami gunakan dalam penanganan bencana di Bali,” tegas Widnyana.

Inovasi berbasis riset ini telah didiseminasikan kepada 35 perguruan tinggi di Bali yang tengah berproses menuju Kampus Siaga Bencana (KSB). Melalui kolaborasi multipihak ini, dunia akademik, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil diharapkan mampu mereplikasi formula menu sehat tersebut, sekaligus memperkuat ketangguhan dan kesiapsiagaan Bali dalam menghadapi risiko bencana serta perubahan iklim secara inklusif dan berkelanjutan. (Irw-Kab).

kabar Lainnya