DENPASAR, KABARBALI.ID — Kabar duka menyelimuti dunia kuliner Indonesia, khususnya di Pulau Dewata.
Sosok Ni Ketut Ngasti, atau yang lebih dikenal secara luas sebagai Men Djenggo (Odah Djenggo), berpulang pada Sabtu (9/5/2026) di usia 90 tahun karena sakit.
Beliau bukan sekadar pedagang nasi biasa; Men Djenggo adalah pelopor sekaligus sosok yang secara historis melahirkan istilah “Nasi Jinggo” yang kini menjadi kuliner rakyat paling ikonik di Bali.
Kisah nasi jinggo bermula pada tahun 1970-an saat Men Djenggo masih menjadi ibu muda. Berlokasi di sekitar Pelabuhan Benoa, Denpasar, beliau meracik nasi bungkus dengan lauk ayam, sapi, atau babi yang dibumbui lezat namun tetap terjangkau.
Pelanggannya kala itu adalah para pekerja pelabuhan, sopir tangki Pertamina, hingga para pemancing. “Saat itu rata-rata ibu membuat 300 hingga 500 bungkus per hari. Kalau ada kapal pesiar bersandar, pesanan bisa melonjak sampai 1.000 bungkus,” kenang putra beliau, Henry Alexie Bloem, yang kini merupakan Chef legendaris Indonesia, Minggu (10/5) kepada media di Denpasar.
Banyak spekulasi mengenai asal nama “Jinggo”, namun Chef Bloem meluruskan sejarah aslinya. Nama tersebut berawal dari hobi sang ayah, Buddy Alexie Bloem, seorang tentara eks KNIL. Sang ayah sangat menggemari film koboi Italia berjudul Django (1966).
Karena kegemaran sang ayah menyanyikan lagu “Djenggo jago tembak” untuk menidurkan Henry kecil, tetangga di Banjar Kaja Sesetan pun memanggil Henry dengan nama panggilan “Djenggo”. Sesuai tradisi Bali, Ni Ketut Ngasti pun dipanggil Men Djenggo (Ibu dari si Djenggo). Dari sinilah nasi bungkus racikannya dikenal sebagai Nasi Men Djenggo, yang kemudian mengalami pergeseran pelafalan menjadi Nasi Jinggo.
Setelah lebih dari 10 tahun berjualan, Men Djenggo berhenti berdagang pada tahun 1982 karena terpilih untuk ngiring menjadi pemangku. Meskipun aktivitas dagangnya berhenti, istilah “Nasi Djenggo” atau “Jinggo” sudah telanjur melekat di masyarakat dan mulai menjamur di area Pasar Badung sekitar tahun 1984 hingga meluas ke seluruh Bali seperti sekarang.
Warisan Men Djenggo tidak hanya berupa resep nasi rakyat yang melegenda, tetapi juga sosok putranya, Henry Alexie Bloem. Chef Bloem telah membawa nama Indonesia ke panggung dunia, pernah dua kali menjabat sebagai Ketua Indonesian Chef Association (ICA), dan kini berkarier di restoran berbintang Michelin di Belanda.
Jenazah Men Djenggo rencananya akan menjalani upacara Pengabenan pada Selasa, 12 Mei 2026. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan pencinta kuliner yang telah menganggap nasi jinggo sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Bali. (Kri-Kab).